Umdatul Ahkam Hadits-31
March 5, 2020 No Comments Artikel Islami admin

Kajian Umdatul Ahkam
Hadist ke-31

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ كُنْتُ جُنُبًا فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjumpa dengannya di salah satu jalan Madinah, sementara ia dalam keadaan junub.” Abu Hurairah berkata, ‘Aku bersembunyi dan pergi diam-diam’. Kemudian pergi mandi (junub) dan kembali lagi setelah itu, beliau lalu bertanya: “Kemana saja kamu tadi wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Aku tadi junub. Dan aku tidak suka bersama engkau sedang aku dalam keadaan tidak suci.” Beliau pun bersabda: “Subhaanallah! Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak itu najis.”

[HR. Bukhori 283 dan Muslim 371]

Faidah :
1. Hadits ini menunjukkan sucinya badan seorang muslim.

2 Keadaan junub tidak menjadikan badan najis.

3. Boleh bagi seorang yang sedang junub untuk keluar rumah dan mengakhirkan mandi janabah, namun dengan syarat jangan sampai melewati waktu shalat.

4. Sucinya badan seorang muslim, bukan berarti badannya tidak mungkin tertimpa najis. Karena meskipun hukum asal badannya suci, namun apabila tertimpa najis maka wajib baginya membersihkan najis yang mengenai badannya.

5. An-Nawawi berkata, “Seorang muslim suci baik hidup ataupun mati. Orang yang masih hidup suci berdasarkan ijma’ kaum muslimin, adapun orang yang meninggal suci berdasarkan pendapat yang rajih. (Syarah Muslim 4 : 66)

6. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

المُسْلِمُ لاَ يَنْجُسُ حَيًّا وَلاَ مَيِّتًا

“Seorang muslim (badannya) tidaklah najis, baik dalam keadaan hidup maupun sudah meninggal.” (HR. Bukhari) Mu’allaq

7. Menghormati orang mulia, berilmu dan baik, serta menghormati majlis mereka dengan sebaik-baiknya.

8. Seorang pengikut (murid) di syari’atkan meminta izin orang yang diikutinya (guru) ketika hendak pergi. Rasulullah mengingkari kepergian Abu Hurairah tanpa sepengetahuannya. Oleh karenanya meminta izin adalah asab yang baik.


Materi Kajian Umdatul Ahkam
Pemateri Ustadz Abu Hanan Abdullah Amir Maretan
Tempat Masjid Besar Kaum Ujung Berung Bandung
Waktu 25 Januari 2020
Penyelenggara FKII / Yayasan Daar Al Atsar Indonesia
Tags
Admin
admin
admin Admin Yayasan Daar Al Atsar Indonesia

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *