Umdatul Ahkam Hadits-33

admin

Kajian Umdatul Ahkam
Hadist ke-33

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ «كُنْت أَغْسِلُ الْجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَيَخْرُجُ إلَى الصَّلَاةِ، وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِي ثَوْبِهِ.

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَرْكًا، فَيُصَلِّي فِيهِ. «

“Dari ‘Aisyah_radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mencuci sisa dari janabat (bekas mani) pada pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau keluar untuk shalat, sementara kainnya masih nampak basahnya.”

[HR. Al Bukhari]

Dalam lafazh Muslim: “Sesungguhnya aku pernah menggaruk air mani yang terdapat pada pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menggunakan pakaian tersebut untuk mendirikan shalat.”
[HR. Muslim]

Faidah :

1. Hukum air mani.
Air mani suci, ini adalah pendapat Jumhur ulama, mereka berdalil dengan hadits ‘Aisyah diatas dan juga hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata;
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ , قَالَ: «إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُزَاقِ , وَإِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ بِإِذْخِرَةٍ. «
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang air mani yang menimpa baju, maka beliau menjawab: ‘Mani itu seperti ingus dan air ludah, maka cukup bagimu mengelapnya dengan kain atau idzkhir (sejenis tumbuhan).” [HR. Ad Daruquthni dan Al Baihaqi]
·      Berkata Al Baihaqi_rahimahullah: “Hadits tersebut yang benar Mauquf (atas Ibnu ‘Abbas).”
·      Berkata Syaikh Al Albani_rahimahullah: “Sesungguhnya apa yang terkandung dalam hadits diatas tentang sucinya mani adalah benar, cukupklah yang demikian itu dengan ketetapan Ibnu ‘Abbas bahwa mani kedudukannya seperti ingus dan ludah. Dan tidak diketahui satu pun dari kalangan shahabat menyelisihi Ibnu ‘Abbas, dan juga ketetapan Ibnu ‘Abbas tersebut tidak menyelisihi Al Qur’an maupun As sunnah.” [lihat kitab Adh dha’ifah 2/362]
·      Berkata Jumhur ulama: “asal usul manusia dari air (mani), bagaimana bisa asalnya dikatakan najis, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«إنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ»
“Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak najis.” [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat Abu Hurairah]
2. Air mani suci, baik mani laki-laki maupun perempuan.

Materi Kajian Umdatul Ahkam
Pemateri Ustadz Abu Hanan Abdullah Amir Maretan
Tempat Masjid Besar Kaum Ujung Berung Bandung
Waktu 25 Januari 2020
Penyelenggara FKII / Yayasan Daar Al Atsar Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Umdatul Ahkam Hadits-34

Kajian Umdatul Ahkam Hadist ke-34 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ «إذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ» ، وَفِي لَفْظٍ »وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ« “Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang duduk di antara empat […]
Umdatul Ahkam Hadits-34