Berkata Syaikh Robi’ Al-Madkholy rahimahullah,
“والله لا قيمة للفقه ولا لغيره ؛ إذا ضيعنا العقيدة وضيعنا التوحيد ، ووقعنا في الشرك بالله ؛ لا فائدة لأي علم أبداً، ولو حفظنا القرآن، وحفظنا الحديث، وحفظنا كتب الفقه، ونحن واقعون في ظلمات الشرك، لا قيمة لنا ولن نستفيد من هذا العلم”
“Demi Allah, tidak berharga ilmu dan yang lainnya, jika kita menyia-nyiakan aqidah dan menyia-nyiakan tauhid, kita terjatuh dalam kesyirikan, selamanya tidak bermanfaat ilmu apapun, walaupun kita menghafal Al-Qur’an, menghafal hadits, menghafal kitab-kitab fiqih, namun kita berada dalam kegelapan syirik, tidak berharga bagi kita dan tidak akan bisa mengambil manfaat dari ilmu tersebut.”
(Marhaban Yaa Thoolibal ‘Ilmi, 111)
Mengapa Aqidah dan Tauhid Menjadi Fondasi Utama Dalam Islam?
1. Tauhid adalah perintah terbesar dalam Al-Qur’an
Dari awal surat Al-Fatihah hingga akhir surat An-Naas, semua ayat menegaskan satu hal: mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
Tauhid adalah kunci diterimanya amal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya.”
(HR. An-Nasa’i)
Tanpa tauhid, semua amal—sekalipun besar—tidak bernilai.
2. Aqidah menentukan keselamatan dunia dan akhirat
Kesalahan dalam fiqih bisa dimaafkan.
Kesalahan dalam hafalan bisa ditoleransi.
Namun kesalahan dalam aqidah dapat menjadi sebab seseorang terjatuh dalam kesyirikan dan menghapus seluruh amal.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)
3. Umat terdahulu binasa karena penyimpangan aqidah
Kaum Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, dan lainnya dihancurkan karena kesyirikan, bukan karena tidak hafal kitab ataupun salah dalam hukum fiqih.
Artinya, persoalan terbesar manusia bukanlah kurangnya ilmu, tetapi rusaknya aqidah.
Makna Mendalam dari Nasihat Syaikh Rabi’
Mari kita bedah inti pesan dari perkataan beliau:
1. “Tidak berharga ilmu jika kita menyia-nyiakan aqidah dan tauhid”
Seseorang bisa hafal Al-Qur’an 30 juz.
Ia bisa menjadi ahli fiqih.
Ia dapat berbicara di atas mimbar dengan fasih.
Namun jika ia tidak menjaga tauhid—atau bahkan tidak memahaminya—maka ilmunya tidak memberi manfaat. Ia seperti:
-
bangunan megah tanpa pondasi
-
kapal besar tapi bocor
-
pohon tinggi tetapi akarnya rapuh
Ilmu bukan dinilai dari banyaknya hafalan, tetapi dari kokohnya aqidah.
2. “Terjatuh dalam kesyirikan membuat ilmu tidak membawa manfaat”
Seseorang bisa mengerjakan banyak amal:
-
salat
-
puasa
-
sedekah
-
haji
-
membaca Al-Qur’an
Tetapi ketika ia melakukan kesyirikan—baik syirik besar maupun syirik kecil—semua amal itu tidak lagi menyelamatkannya.
Kesyirikan yang sering tidak disadari misalnya:
-
riya
-
bergantung kepada jimat
-
meyakini dukun atau paranormal
-
meminta keselamatan kepada selain Allah
-
ritual-ritual adat yang bertentangan dengan aqidah
Inilah yang disebut Syaikh sebagai “kegelapan syirik”, sebuah kondisi yang membuat hati tidak mampu merasakan manisnya iman.
3. “Menghafal ilmu tidak sama dengan mendapatkan hidayah”
Inilah poin yang sering dilupakan.
Banyak orang berilmu, tetapi:
-
tidak membuahkan amal
-
tidak membawa ketundukan
-
tidak memperbaiki hati
Menghafal tidak sama dengan memahami.
Mengetahui tidak sama dengan mengamalkan.
Ilmu yang benar adalah ilmu yang menguatkan tauhid dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bukti Nyata dalam Kehidupan: Ilmu Tanpa Aqidah Tidak Berharga
Setiap hari, kita melihat fenomena:
-
orang pandai tetapi jauh dari Allah
-
hafal banyak dalil tapi mudah melakukan maksiat
-
fasih berbicara tentang sunnah namun sombong
-
aktif dalam kajian namun masih percaya jimat
-
hafal Qur’an tapi tetap mendatangi dukun saat panik
Ini semua terjadi karena ilmunya belum menancap di pondasi yang benar.
Ilmu tanpa tauhid seperti tubuh tanpa ruh.
Hidup, tapi kosong. Bergerak, tapi tidak menuju kebaikan.
Bagaimana Menuntut Ilmu dengan Fondasi Aqidah yang Benar?
Berikut langkah-langkah yang diambil dari bimbingan para ulama:
1. Mulai dari mengenal Allah (ma’rifatullah)
Pelajari:
-
Nama-nama Allah (Asmaul Husna)
-
Sifat-sifat Allah
-
Keagungan dan kekuasaan-Nya
Semakin mengenal Allah, semakin kokoh tauhid kita.
2. Pelajari tauhid sebelum mempelajari fiqih dan cabang ilmu lainnya
Para ulama salaf mengajarkan:
-
tauhid rububiyyah
-
tauhid uluhiyyah
-
tauhid asma’ wa sifat
Bahkan anak-anak kecil di zaman dahulu diajarkan tauhid sebelum belajar membaca.
3. Hindari sumber belajar yang merusak aqidah
Banyak orang tersesat karena belajar dari:
-
tokoh yang menyimpang
-
konten internet yang tidak jelas
-
guru agama yang keliru aqidahnya
Pilihlah guru yang dikenal lurus manhajnya, seperti pesan para ulama:
“Ilmu itu agama. Perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
4. Perbanyak doa kepada Allah
Hidayah adalah milik Allah.
Sebanyak apa pun kita belajar, tanpa pertolongan Allah kita tidak akan istiqamah.
Doa Nabi yang paling sering dibaca:
“Ya Allah, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.”
Bahaya Meremehkan Aqidah dalam Kehidupan Modern
Banyak kaum muslimin hari ini sibuk dengan teknologi, bisnis, pendidikan modern, dan aktivitas sosial — tetapi lupa memperbaiki aqidah.
Akibatnya:
-
percaya ramalan
-
takut pada selain Allah
-
mengikuti ritual-ritual yang mengandung syirik
-
bangga dengan gelar akademik tetapi malas memahami tauhid
-
lebih rajin mengikuti motivator daripada kajian aqidah
Fenomena ini sangat berbahaya, karena syirik bisa merusak amal seseorang tanpa ia sadari.
Kembali ke Inti Agama — Tauhid
Nasihat Syaikh Rabi’ adalah pengingat keras bagi kita semua:
Ilmu apa pun tidak akan bermanfaat jika aqidah rusak.
Tauhid adalah pondasi, cahaya, dan penyelamat kehidupan.
Karena itu:
-
sebelum memperbanyak hafalan
-
sebelum memperdalam fiqih
-
sebelum mempelajari kitab-kitab besar
…pastikan kita telah memperbaiki tauhid dan aqidah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lurus aqidahnya, kokoh tauhidnya, dan bermanfaat ilmunya. Aamiin.