Ilmu Tidak Dapat Diraih Dengan Tubuh Yang Santai
Berkata Yahya Bin Abi Katsir Rahimahullah, “Ilmu itu tidak bisa diraih dengan bersantai-santai.” HR. Muslim no. 612
Poster Islami dan Artikel Islami Penuh Faidah
Berkata Yahya Bin Abi Katsir Rahimahullah, “Ilmu itu tidak bisa diraih dengan bersantai-santai.” HR. Muslim no. 612
Berkata Ibnu Abdil Bar Rahimahullah, “Orang yang membanggakan diri, tanda bahwa ia lemah akal sehatnya.” Jaami bayanil ilmi wa fadhlihi hal. 143
Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, “Sesungguhnya perumpamaan orang yang tergesa-gesa dalam berdo’a, bagaikan orang yang menanam benih atau menanam pohon, ia sirami dan merawatnya hingga tatkala datang masa panennya, ia meninggalkan dan menghiraukannya.” Ad Daa Wa Dawaa hal. 19
Berkata Ibnu Mubarok Rahimahullah, “Diantara musibah besar yang menimpa seorang hamba adalah tatkala ia tahu dirinya lalai dalam beribadah, namun ia tak peduli dan tidak menyesalinya.” Syuabul iman Lil baihaqi 2/271
Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, “kemaksiatan merupakan penghalang pintu rezeki, seorang hamba terhalangi dari rezeki dengan sebab perbuatan dosanya.” Al Fawaid hal. 70
Seseorang berkata kepada Imam Al-Auza’i rahimahullah, أريد بيتا بجوار أناس لا يغتابون ولا يحسدون، ولا يبغضون. فأخذني إلى المقبرة وقال: هنا. “Aku ingin rumah tinggal di sebelah orang-orang yang tidak menggibah/menggunjing, tidak iri/dengki, dan tidak membuat marah. Beliau membawaku ke kuburan dan berkata, “Di sini tempatnya.” Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/182
Berkata Abdullah bin Syubrumah Rahimahullah, “Aku heran dengan seorang yang berhati-hati dalam memilih makanan karena khawatir terjangkit penyakit, namun ia tidak berhati-hati dari perbuatan dosa, yang bisa menjerumuskannya ke neraka.” Siyar A’lam An Nubalaa 6/348
Berkata Imam Ibnu Rajab Rahimahullah, “Menyibukkan diri dengan perkara yang bisa mensucikan hati, hal itu lebih utama daripada banyaknya ibadah puasa dan sholat dengan hati yang lalai.” Lathaiful Ma’arif hal. 427
Berkata Syaikh Ibnu Sholih Al Utsaimin Rahimahullah, “Diantara tanda Riya ialah seorang yang bermaksiat kepada Allah ﷻ dalam kondisi sendiri yang tidak ada yang melihat kecuali Allah ﷻ. Namun ia menampakkan diri sebagai orang yang takut kepada Allah ﷻ di tengah-tengah manusia.” Ad Dhiyaul Laami 2/221
Berkata Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah, “ketahuilah, kebanyakan manusia binasa dengan sebab cinta pujian dan takut celaan. Setiap langkahnya mengikuti segala perkara yang mendatangkan keridhaan manusia dan takut celaan mereka.” Mukhtashor Minhajul Qashidin hal. 212