Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,
“Rezeki dan ajal itu berpasangan, selama ajal masih tersisa, maka rezeki pasti akan datang.”
(Kitab al-Fawaaid, 72)
Makna Ungkapan “Rezeki dan Ajal Itu Berpasangan”
Kata “berpasangan” dalam konteks ini bukan sekadar dua hal yang berjalan berdampingan, tetapi juga dua hal yang ditetapkan bersama oleh Allah.
Artinya, setiap detik kehidupan yang Allah berikan, pasti diiringi dengan jatah rezeki yang sudah ditentukan.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya roh kudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam hatiku, bahwa seorang jiwa tidak akan mati sebelum ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya.”
(HR. Abu Nu’aim, al-Hakim)
Dari hadis ini, kita memahami bahwa tidak perlu takut tidak kebagian rezeki, karena tidak ada satu jiwa pun yang akan meninggal sebelum menerima seluruh jatahnya.
Rezeki Sudah Ditetapkan Sejak Sebelum Lahir
Islam mengajarkan bahwa empat hal sudah ditetapkan sejak manusia masih di dalam rahim ibunya:
-
Rezekinya
-
Ajalnya
-
Amalnya
-
Nasibnya (celaka atau bahagia)
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang proses penciptaan manusia dalam rahim. Malaikat diperintahkan untuk menulis keempat ketetapan itu.
Artinya, rezeki bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena ia sudah ditentukan secara pasti oleh Allah.
Namun, bukan berarti manusia boleh berdiam diri dan pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya, keyakinan terhadap ketetapan Allah harus mendorong kita untuk berusaha lebih baik — dengan hati yang tenang dan yakin, bukan panik dan cemas.
Hubungan Antara Usaha dan Keyakinan
Salah satu kesalahan umum dalam memahami konsep rezeki adalah menganggap bahwa karena rezeki sudah ditentukan, maka tidak perlu bekerja keras.
Padahal, usaha adalah bagian dari jalan yang Allah tetapkan untuk menjemput rezeki itu.
Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Ayat ini menunjukkan keseimbangan antara spiritual dan usaha. Kita diperintahkan mencari karunia Allah — yaitu bekerja, berusaha, dan berikhtiar — namun tetap dengan hati yang bergantung kepada Allah, bukan kepada pekerjaan itu sendiri.
Dengan kata lain, usaha adalah kewajiban, rezeki adalah ketetapan.
Yang menjadi ujian bukan apakah kita mendapatkan rezeki, tetapi bagaimana cara kita mencarinya dan mensyukurinya.
Rezeki Tak Selalu Berwujud Uang
Banyak orang menyempitkan makna rezeki hanya pada materi atau uang. Padahal, rezeki bisa hadir dalam banyak bentuk:
-
Kesehatan yang membuat kita bisa beribadah dan bekerja.
-
Waktu luang yang bisa digunakan untuk kebaikan.
-
Keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berbakti.
-
Teman-teman yang baik dan lingkungan yang mendukung iman.
-
Hati yang tenang dan pikiran yang lapang.
Ketika seseorang memahami bahwa semua nikmat itu adalah bagian dari rezeki, maka ia akan lebih banyak bersyukur dan berhenti mengeluh.
Sebab, setiap kali ia membuka mata di pagi hari, itu berarti Allah masih mengirimkan rezeki baru bersamaan dengan sisa umur yang diberikan.
Ketika Rezeki Terasa Sulit Datang
Ada kalanya rezeki terasa tertahan, usaha terasa berat, dan jalan terasa buntu.
Namun, orang beriman tidak melihatnya sebagai bukti bahwa Allah menutup pintu rezeki, melainkan bukti bahwa Allah sedang mendidik hatinya.
Allah berfirman dalam QS. At-Thalaq ayat 2–3:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Artinya, ketakwaan adalah kunci kelancaran rezeki, bukan sekadar kerja keras.
Kadang Allah menunda rezeki untuk menguji kesabaran, atau mengganti dengan rezeki yang lebih baik di waktu yang tepat.
Tanda Bahwa Rezeki Sudah Menyertai Ajal
Rezeki dan ajal selalu berjalan bersama.
Ketika ajal sudah tiba, maka tidak akan ada lagi rezeki yang tersisa.
Itulah sebabnya mengapa seseorang bisa mendadak meninggal setelah menerima gajinya, atau setelah makan terakhirnya, karena jatah rezekinya telah habis bersamaan dengan berakhirnya ajal.
Hal ini membuat kita sadar bahwa selama kita masih hidup, sekecil apa pun rezeki yang datang adalah tanda kasih sayang Allah.
Maka tidak sepatutnya kita mengeluh tentang jumlah rezeki, tetapi bersyukur bahwa Allah masih mengizinkan kita untuk menerimanya.
Belajar Ridha dan Bersyukur atas Rezeki yang Ada
Sikap ridha dan syukur adalah bentuk keimanan yang mendalam terhadap takdir Allah.
Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Syukur bukan hanya dengan ucapan “Alhamdulillah”, tetapi juga dengan:
-
Menggunakan rezeki pada jalan yang halal dan bermanfaat.
-
Tidak membandingkan diri dengan orang lain.
-
Menolong sesama ketika diberi kelapangan.
-
Bersabar saat rezeki belum datang.
Ketika seseorang mampu bersyukur atas apa yang dimilikinya, Allah akan menambah keberkahan dalam rezekinya, bahkan dari arah yang tak disangka.
Rezeki Tak Akan Tertukar
Banyak orang cemas melihat orang lain sukses lebih cepat, padahal setiap orang punya garis rezeki yang berbeda-beda.
Kata ulama, “Yang tertulis untukmu tidak akan meleset, dan yang bukan untukmu tidak akan pernah kamu miliki.”
Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 6:
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
Artinya, setiap makhluk sudah memiliki bagian rezekinya masing-masing.
Kita tidak perlu iri terhadap rezeki orang lain, karena setiap orang sedang menjemput takdirnya sendiri.
Refleksi: Selama Masih Hidup, Jangan Takut Soal Rezeki
Jika rezeki dan ajal adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan, maka selama kita masih hidup, tidak ada alasan untuk takut kekurangan.
Kekhawatiran terhadap masa depan seringkali membuat manusia lupa bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya.
Setiap pagi, burung keluar dari sarangnya dengan perut kosong, tetapi pulang dengan perut kenyang.
Padahal mereka tidak punya tabungan, tidak punya gaji bulanan, dan tidak tahu di mana makanan akan ditemukan.
Namun mereka tetap terbang — karena keyakinan dan usaha berjalan beriringan.
Kesimpulan — Tenanglah, Rezekimu Tak Akan Terlambat
Ungkapan Ibnul Qayyim dalam Kitab al-Fawaaid:
“Rezeki dan ajal itu berpasangan, selama ajal masih tersisa, maka rezeki pasti akan datang.”
adalah pengingat agar kita hidup dengan hati yang tenang dan yakin kepada takdir Allah.
Selama napas masih ada, pintu rezeki tidak pernah tertutup.
Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha dengan ikhlas, menjaga kehalalan rezeki, dan memperbanyak doa serta syukur.
Sebab, rezeki tidak hanya soal harta, tetapi juga keberkahan dalam hidup.