Jangan Lupa Diri dan Sibuk Mengurusi Aib Orang Lain
Berkata Aun Ibnu Abdullah Rahimahullah, “Aku menilai seorang yang sibuk mengurusi aib orang lain itu, dikarenakan ia lalai dari aib dirinya sendiri.” Hilyatul Auliya Karya Abi Nu’aim 3/249
Berkata Aun Ibnu Abdullah Rahimahullah, “Aku menilai seorang yang sibuk mengurusi aib orang lain itu, dikarenakan ia lalai dari aib dirinya sendiri.” Hilyatul Auliya Karya Abi Nu’aim 3/249
Berkata Fudhail bin Iyadh Rahimahullah, “Ikutilah jalan hidayah (haq), tak masalah sekalipun sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Dan berhati-hatilah dari jalan kesesatan, dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang binasa (karena menempuh jalan kesesatan tersebut).” Al I’tishom hal. 112
Berkata al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah, مدة الشباب قصيرة كمدة زهر الربيع وبهجته ونضارته فإذا يبس وابيض فقد آن ارتحاله “Masa muda sangat sebentar bagaikan bunga di musim semi, keindahan dan keelokannya. Apabila bunga itu telah menjadi kering dan putih, maka telah tiba waktu kepergiannya.” Lathoiful Ma’arif 1/333
Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Iman kepada takdir akan mengharuskan seorang hamba menjadi banyak bersabar dan bersyukur, terus menerus bersabar dengan bala dan bersyukur dengan kelapangan.” Majmu’ al-Fataawa, 8/237
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari 6114, Muslim 2609)
Dulu para Sahabat radhiallahu anhum, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal mereka selama bulan Ramadhan. Diantara sebagian Sahabat berdo’a: اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً ALLAHUMMA SALLIMNII … Read more
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah:183)
Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Aku tidak melihat sesuatu yang dapat memberikan kebaikan pada akal dan ruh menjaga kesehatan badan serta menjamin kebahagiaan dari pada banyak melihat (membaca) kitabullah (alqur’an)” Majmu’ alfatawa (7/493)
Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, ومن عقوباتها: أنّها تعمي بصيرة القلب، وتطمس نوره، وتسدّ طُرق العلم، وتحجب موارد الهداية. “Di antara hukuman kemaksiatan adalah kemaksiatan akan membutakan pandangan kalbu, mengilangkan cahayanya, menutup pintu-pintu ilmu dan menghalangi sumber-sumber hidayah.” ad-Da’wad Dawa’ 117
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketika, mencukur bulu kemaluan, yaitu itu semua tidak dibiarkan lebih dari 40 malam.” (HR. Muslim no. 258)