Cara Agar Amal Ibadah Kita Bertahan Lama (Konsisten & Konsekuen)

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah, فَمَا لَا يَكُونُ بِاَللَّهِ لَا يَكُونُ، وَمَا لَا يَكُونُ لِلَّهِ لَا يَنْفَعُ وَلَا يَدُومُ “Apa saja yang diusahakan tanpa pertolongan Allah maka tidak akan bisa terwujud, dan apa saja yang dilakukan bukan untuk mencari ridha Allah maka tidak akan bermanfaat dan tidak akan berlangsung lama.” (Majmu’ul Fatawa, 8/329)

Rasa Takut Manusia Kepada Allah Sesuai Dengan Kadar Ilmunya Tentang Allah

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah, رهبة العبد من الله على قدر علمه بالله، وزهده في الدنيا على قدر رغبته في الآخرة. “Rasa takut seorang hamba kepada Allah sesuai kadar ilmunya tentang Allah, dan sikap perendahannya terhadap dunia sesuai dengan kadar kecintaannya terhadap akhirat.” (az-Zuhd al-Kabir, 74)

Wahai Muslimah! Menjulurkan Jilbab Bukanlah Untuk Berhias

Berkata asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, والمقصود من الأمر بالجلباب، إنما هو ستر زينة المرأة، فلا يعقل حينئذٍ أن يكون الجلباب نفسه زينة “Tujuan perintah untuk berjilbab sesungguhnya sebagai penutup perhiasan wanita, maka tidak masuk akal apabila jilbab itu sendiri malah digunakan untuk berhias”. (Jilbabul Mar’atul Muslimah hal.120)

Haram di Dunia, Halal Di Akhirat (Surga)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ أَنْ يَتُوبَ “Barangsiapa yang meminum khamr di dunia, ia tidak akan meminumnya di akhirat (surga). Kecuali jika ia bertaubat.” (HR. Al Bukhari no.5575, Muslim no.2003)

Perbedaan Orang Yang Berilmu Dengan Orang Orang Bodoh (Tidak Berilmu)

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, العالم يعرفُ الجاهل، والجاهل لا يعرف العالم ، لأن العالم كان جاهلاً، والجاهل لم يكن عالماً “Orang berilmu mengetahui keadaan orang yang bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak tahu keadaan orang berilmu. Karena orang berilmu dulunya pernah bodoh, sedangkan orang bodoh tidak pernah berilmu.” (Majmu’ alfatawa 235/15)

Tercelanya Sifat bakhil (Kikir / Koret / Pelit)

Berkata Imam Zainul ‘Abidin Ali bin Hussain rahimahullah, إِنِّي لَأَسْتَحْيِي مِنَ اللَّهِ أَنْ أَرَى الْأَخَ مِنْ إِخْوَانِي، فَأَسْأَلُ اللَّهَ لَهُ الْجَنَّةَ، وَأَبْخَلَ عَلَيْهِ بِالدُّنْيَا، فَإِذَا كَانَ غَدًا قِيلَ لِي: لَوْ كَانَتْ الْجَنَّةُ بِيَدِكَ، لَكُنْتَ بِهَا أَبْخَلُ وَأَبْخِلُ “Sungguh aku merasa malu kepada Allah tatkala aku melihat salah seorang saudaraku yang aku mohonkan untuknya surga. Namun … Read more

Renungkanlah Ini Sebelum Engkau Berkata atau Berucap!

Berkata al-Hafizh an-Nawawiy rahimahullah, “وَ يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ النُّطْقَ بِكَلِمَةٍ أَوْ كَلَامٍ؛ أَنْ يَتَدَبَّرَهُ فِي نَفْسِهِ قَبْلَ نُطْقِهِ، فَإِنْ ظَهَرَتْ مَصْلَحَتُهُ تَكَلَّمَ وَ إِلَّا أَمْسَكَ” “Sepantasnya bagi seorang yang hendak berucap dengan sebuah kata atau kalimat hendaknya dirinya merenungi  dalam hatinya sebelum berucap. Bila nampak baginya kemaslahatan ucapannya itu maka diucapkan olehnya dan bila sebaliknya maka … Read more

Tangis Perpisahan Dengan Bulan Ramadhan

Berkata Imam Ibnu Rajab Rahimahullah, كيف لا يجري للمؤمن على فراقه دموع، وهو لا يدري هل بقى له في عمره إليه رجوع “Bagaimana mungkin seorang yang beriman tidak meneteskan air mata tatkala ia berpisah dengan bulan ramadhan, sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umur untuk berjumpa lagi dengannya.” (Lathaiful Ma’arif hal 387)

Indahnya Hidup Di Atas Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Berkata Imam Malik bin Anas rahimahullah, مَنْ لزِمَ السُّنّةَ وسَلِمَ مِنْه أَصحَابُ رَسولِ اللَّه صَلّى اللَّه عَليهِ وَسلَّم ثُمّ مَات، كَانَ مَع النَّبِيِّينَ وَالصِّدّيقِينَ وَالشُّهدَاءِ وَالصَّالِحينَ، وَإنْ كَان لَه تَقصِيرٌ فِي العَملِ. “Siapa yang senantiasa diatas Sunnah dan menjaga dirinya tidak mencela shahabat kemudian meninggal dunia, niscaya akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang … Read more

Inilah Yang Disebut Kemunafikan Di Atas Kemunafikan

Berkata al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah, فمن أظهر للناس خشوعًا فوق ما في قلبه فإنَّمَا هو نفاق على نفاق. “Siapa yang menampakkan kepada orang lain kekhusyukan melebihi apa yang ada dalam hatinya maka itu merupakan kemunafikan di atas kemunafikan.” (Rawai’ut Tafsir, 2/11)