Kerasnya Hati Adalah Musibah Yang Besar
Berkata Malik Bin Dinar Rahimahullah, “Tiada musibah menimpa seorang hamba yang lebih besar dari hati yang keras.” Az Zuhd Karya Imam Ahmad hal. 259
Berkata Malik Bin Dinar Rahimahullah, “Tiada musibah menimpa seorang hamba yang lebih besar dari hati yang keras.” Az Zuhd Karya Imam Ahmad hal. 259
Syaikh Bin Baz Rahimahullah berkata, “Membaca surat Al mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Naas) pada pagi dan petang sebanyak 3 kali, diantara sebab seorang terlindungi dari bahaya sihir dan selainnya.” Fatawa Nur ‘Ala Darb 3/295
(مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ.. ) [سورة النحل 97] Berkata Imam Qurtubi Rahimahullah, Makna Kehidupan yang baik adalah : 1. Meraih rezeki yang halal 2. Qona’ah dalam hidup 3. Diberikan taufik dalam mengamalkan kebaikan 4. Surga atau kebahagiaan Tafsir Al Qurtubi 10/174
Berkata Sulaiman At Taimi Rahimahullah, “Sesungguhnya seorang yang berbuat maksiat, maka padanya kehinaan.” Siyar A’lam An Nubalaa 6/200
Berkata Syaikh Ibnu Sholih Al Utsaimin Rahimahullah, “Dosa merupakan penghalang antara seorang hamba dan hidayah. Ia tidak diberikan hidayah dan tidak dikabulkan do’anya.” Syarah Aqidah Wasithiyyah hal. 321
Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, “Al-Quran Merupakan Obat Mujarab dari berbagai macam penyakit, baik penyakit rohani maupun penyakit jasmani. Dan penyakit (cinta) dunia maupun (azab) akhirat.” Zaadul Ma’aad 4/352
Berkata Ibrahim Bin Abdil Wahid Rahimahullah, “Perbanyaklah membaca Al-Quran dan janganlah lalai dari membacanya, karena kemudahan yang engkau dapatkan dalam urusanmu sesuai dengan kadar bacaan Al-Quran mu.” Dzail Thobaqat Al Hanabilah 3/205
Berkata Yahya Bin Abi Katsir Rahimahullah, “Ilmu itu tidak bisa diraih dengan bersantai-santai.” HR. Muslim no. 612
Berkata Ibnu Abdil Bar Rahimahullah, “Orang yang membanggakan diri, tanda bahwa ia lemah akal sehatnya.” Jaami bayanil ilmi wa fadhlihi hal. 143
Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, “Sesungguhnya perumpamaan orang yang tergesa-gesa dalam berdo’a, bagaikan orang yang menanam benih atau menanam pohon, ia sirami dan merawatnya hingga tatkala datang masa panennya, ia meninggalkan dan menghiraukannya.” Ad Daa Wa Dawaa hal. 19