{32} As-Sajdah / السجدة | الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ | سبإ / Saba {34} |
Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Ahzab الأحزاب (Golongan-Golongan Yang Bersekutu) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 33 Tafsir ayat Ke 36.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا ﴿٣٦﴾
wa mā kāna limu`miniw wa lā mu`minatin iżā qaḍallāhu wa rasụluhū amran ay yakụna lahumul-khiyaratu min amrihim, wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ fa qad ḍalla ḍalālam mubīnā
QS. Al-Ahzab [33] : 36
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
Tidak patut bag seorang mukmin, laki-laki maupun perempuan, bila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah hukum di antara mereka untuk menyelisihinya dengan memilih selain apa yang ditetapkan pada mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah berjalan sangat jauh dari kebenaran.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin. (Al Ahzab:36), hingga akhir ayat. Pada mulanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pergi untuk melamar buat pelayan laki-lakinya yang bernama Zaid ibnu Harisah. Maka beliau masuk ke dalam rumah Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah r.a., dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ langsung melamarnya buat Zaid. Tetapi Zainab binti Jahsy menjawab, “Aku tidak mau menikah dengannya.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Tidak, bahkan kamu harus menikah dengannya.” Zainab binti Jahsy berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengatur diriku?” Ketika keduanya sedang berbincang-bincang mengenai hal tersebut, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menurunkan firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan. (Al Ahzab:36), hingga akhir ayat. Akhirnya Zainab binti Jahsy bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau rela menikahkan dia denganku?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “Ya.” Zainab berkata, “Kalau demikian, saya tidak akan menentang perintah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Saya rela dinikahkan dengannya.”
Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melamar Zainab binti Jahsy untuk Zaid ibnu Harisah r.a., tetapi Zainab menolak dinikahkan dengannya dan mengatakan, “Saya berketurunan lebih baik daripada dia, sedangkan Zainab adalah seorang wanita yang keras. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin. (Al Ahzab:36), hingga akhir ayat.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zainab binti Jahsy r.a. ketika dilamar oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk menjadi istri maulanya yang bernama Zaid ibnu Harisah r.a. Lalu Zainab menolak lamarannya, tetapi pada akhirnya menerima lamaran itu.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ayat ini, diturunkan berkenaan dengan Ummu Kalsum binti Uqbah ibnu Abu Mu’it r.a. Dia adalah seorang wanita yang mula-mula berhijrah, yakni sesudah Perjanjian Hudaibiyyah. Lalu ia menyerahkan dirinya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Aku terima penyerahan dirinya.” Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengawinkannya dengan Zaid ibnu Harisah r.a. Yakni —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— kisah ini terjadi sesudah Zaid ibnu Harisah bercerai dengan Zainab binti Jahsy. Maka Zainab dan saudara lelakinya marah seraya berkata, “Sesungguhnya kami menghendaki diri Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, tetapi ternyata beliau mengawinkan kami dengan bekas budaknya.” Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan. (Al Ahzab:36), hingga akhir ayat.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa telah diturunkan pula suatu perintah yang lebih mencakup artinya ketimbang ayat ini, yaitu firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. (Al Ahzab:6)
Ayat di atas mengandung pengertian khusus, sedangkan ayat ini mengandung pengertian yang lebih umum.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas r.a. yang menceritakan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melamar seorang wanita dari kalangan Ansar kepada ayahnya untuk beliau kawinkan dengan Julaibib. Maka ayah si wanita itu berkata, “Saya akan bermusyawarah dahulu dengan ibunya.” Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “Kalau begitu, silakan.” Maka lelaki itu berangkat menemui istrinya dan menceritakan kepada istrinya tentang lamaran Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu. Istrinya berkata, “Tidak, demi Allah, kalau memang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak menemukan pasangan lain kecuali Julaibib. Sesungguhnya kita telah menolak lamaran si Fulan bin Fulan sebelum itu.” Tetapi anak perawannya yang ada di balik kain penutup pintu kamarnya mendengar ucapan tersebut. Lalu lelaki itu bermaksud menemui Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk menceritakan hal tersebut, tetapi si anak perawannya berkata menghalang-halanginya, “Apakah ayah hendak menolak lamaran yang telah diajukan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ? Jika beliau rela si Julaibib sebagai menantu ayah, maka kawinkanlah dia (denganku).” Ternyata si anak perawan itu menyanggah keinginan kedua orang tuanya. Akhirnya keduanya berkata, “Dia memang benar.” Kemudian ayahnya berangkat menemui Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan mengatakan kepadanya, “Jika engkau rela kepada si Julaibib, maka kami pun demikian pula.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab: Sesungguhnya aku rida (rela) kepadanya. Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengawinkan anak perawan lelaki itu dengan Julaibib. Sesudah itu penduduk Madinah mengalami kegemparan karena diserang oleh musuh, maka Julaibib menaiki kudanya (maju melabrak musuh). Ternyata mereka menjumpai jenazah Julaibib ditemukan bersama jenazah sejumlah orang dari kaum musyrik yang telah dibunuhnya (sebelum ia gugur). Sahabat Anas r.a. mengatakan bahwa sesungguhnya ia melihat bekas istri Julaibib itu benar-benar termasuk wanita yang paling dermawan di Madinah.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad (yakni Ibnu Salamah), dari Sabit, dari Kinanah ibnu Na’im Al-Adawi, dari Abu Barzah Al-Aslami yang menceritakan bahwa Julaibib adalah seorang lelaki yang dikenal sering menjumpai kaum wanita, melatih mereka, dan bermain-main dengan mereka. Lalu aku berkata kepada istriku, “Jangan sekali-kali kalian memasukkan Julaibib ke dalam rumah kalian. Karena sesungguhnya jika kamu coba-coba berani memasukkan Julaibib, maka aku akan menghukum kamu.” Dan merupakan suatu kebiasaan bagi orang-orang Ansar apabila seseorang dari mereka mempunyai seorang janda, ia tidak berani mengawinkannya sebelum memberitahukan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, apakah beliau mempunyai keperluan terhadapnya ataukah tidak. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada seorang lelaki dari kalangan Ansar, “Kawinkanlah aku dengan anak perempuanmu.” Lelaki itu mejawab, “Ya, ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagiku, wahai Rasulullah.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Sesungguhnya aku menginginkannya bukan untuk diriku.” Lelaki itu bertanya, “Buat siapakah wahai Rasulullah?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “Untuk Julaibib.” Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan berunding dahulu dengan ibunya.” Lelaki itu mendatangi istrinya (ibu anak perempuannya itu), lalu menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah melamar putrinya. Maka istrinya menjawab, “Baiklah, itu merupakan suatu kebahagiaan.” Lelaki itu berkata menjelaskan, “Tetapi beliau melamar putri kita bukan untuk dirinya, melainkan untuk Julaibib.” Istrinya bertanya, “Apakah Julaibib itu anaknya, apakah Julaibib itu anaknya? Tidak, demi usia Allah, kami tidak akan mengawinkannya dengan Julaibib.” Ketika lelaki itu hendak pergi menemui Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ guna memberitahukan kepadanya hasil musyawarah dia dengan istrinya, tiba-tiba anak perempuannya itu berkata, “Siapakah yang melamarku kepada kalian sehingga perlu memberitahukannya kepada ibunya?” Perempuan itu melanjutkan perkataannya, “Apakah kalian menolak lamaran Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ? Sesungguhnya dia tidak akan menyia-nyiakan diriku.” Akhirnya ayahnya pergi menemui Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan berkata kepadanya, “Saya serahkan dia kepadamu, kawinkanlah dia dengan Julaibib.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pergi ke medan perang. Ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya, maka beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Apakah kalian merasa kehilangan seseorang? Mereka menjawab, “Kami kehilangan si Fulan dan kami kehilangan si Anu.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kembali bersabda, “Periksalah, apakah kalian kehilangan seseorang.” Mereka menjawab, “Tidak ada lagi.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Akan tetapi, saya kehilangan Julaibib.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Carilah dia di antara orang-orang yang telah gugur!” Maka mereka mencarinya, dan mereka menjumpainya tergeletak mati di samping jenazah tujuh orang (musuh) yang telah dia bunuh, kemudian mereka (musuh) membunuhnya. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, inilah dia, berada di sebelah jenazah tujuh orang yang pasti dialah yang telah membunuh mereka, kemudian mereka (musuhnya) membunuhnya.” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendatanginya, lalu berdiri di dekat jenazahnya dan bersabda: Dia telah membunuh tujuh orang dan mereka telah membunuhnya. Orang ini termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya. sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ meletakkan jenazahnya pada kedua lengannya, lalu menguburkannya. Jenazahnya tidak memakai katil selain dari kedua lengan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang memanggulnya, kemudian diletakkan di dalam kuburnya. Tiada suatu riwayat pun yang menyebutkan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memandikannya. Sabit r.a. mengatakan bahwa sesudah itu tiada seorang janda pun di kalangan orang-orang Ansar yang lebih dermawan daripada janda Julaibib itu. Ishaq ibnu Abdullah Abu Talhah bertanya kepada Sabit, “Apakah engkau mengetahui apa yang telah didoakan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ buat wanita itu?” Sabit menjawab, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memanjatkan doa berikut buatnya: Ya Allah, curahkanlah kepadanya nikmat-Mu sederas-derasnya, dan janganlah engkau jadikan penghidupannya sengsara. Doa beliau dikabulkan oleh Allah. Maka tiada seorang janda pun di kalangan Ansar yang lebih dermawan daripada wanita itu.
Al-Hafiz Abu Umar ibnu Abdul Bar telah menyebutkan di dalam kitab Al-Isti’ab, bahwa ketika wanita itu berkata di dalam kemahnya, “Apakah kalian menolak lamaran Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (Al Ahzab:36)
Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Amir ibnu Mus’ab, dari Tawus yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya dia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang dua rakaat yang dilakukan sesudah salat Asar. Maka Ibnu Abbas melarangnya (mengerjakannya), dan Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (Al Ahzab:36)
Ayat ini mengandung makna yang umum mencakup semua urusan, yang garis besarnya menyatakan bahwa apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara, maka seorang pun tidak diperkenankan menentangnya, dan tidak boleh ada pilihan lain atau pendapat lain atau ucapan lain selain dari apa yang telah ditetapkan itu. Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An Nisaa:65)
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah beriman seseorang di antara kalian sebelum kesenangannya mengikuti apa yang disampaikan olehku.
Karena itulah maka diperingatkan dengan keras bagi orang yang menentang hal ini melalui firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:
Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (Al Ahzab:36)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An Nuur:63)
(36) Maksudnya, tidak pantas dan tidak laik bagi orang yang berkarakterkan iman kecuali bergegas dalam mencari keridhaan Allah dan RasulNya, serta lari dari murka Allah dan RasulNya, mematuhi perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. Maka sangat tidak pantas bagi seorang lelaki beriman dan tidak pula bagi perempuan beriman, إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا “apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan,” dari ketetapan-ketetapan, dan keduanya memastikan dan mewajibkannya, أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ “akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka,” maksudnya, memilih pilihan (sendiri), apakah mereka mau mengerjakannya ataupun tidak? Bahkan seorang laki-laki dan perempuan yang beriman mengetahui bahwa Rasul itu harus diutamakan daripada dirinya sendiri. Maka dari itu jangan menjadikan sebagian hawa nafsu sebagai penghalang yang membatasi antara dia dengan perintah Allah dan RasulNya.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata,” maksudnya, yang jelas sekali, karena sesungguhnya dia telah meninggalkan jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada karamah Allah, beralih kepada jalan-jalan lain yang bisa menjerumuskan ke dalam siksa yang sangat perih. Maka Allah جَلَّ جَلالُهُ terlebih dahulu menjelaskan sebab yang dapat mengakibatkan tidak adanya sikap melawan perintah Allah dan RasulNya, yaitu iman, kemudian Dia menjelaskan pencegah (dari sikap melawan Allah), yaitu dengan cara menakut-nakuti mereka dengan kesesatan yang akan berakibat pada azab dan siksa.
Ketaatan orang-orang yang beriman kepada Allah tidak cukup dibuktikan dengan memiliki sepuluh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Ia harus pula tunduk kepada hukum-hukum yang Allah tetapkan. Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan hukum, maka tidak akan ada pilihan hukum yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Mereka harus menaati hukum yang Allah dan rasul-Nya tetapkan. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dengan menolak hukum-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. 37. Dan ingatlah, ketika engkau, wahai nabi Muhammad, beberapa kali berkata kepada orang, yakni zaid bin ”ri’ah, yang telah diberi nikmat oleh Allah dengan memeluk agama islam dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakannya dan mengangkatnya menjadi anak, ‘pertahankanlah terus istrimu, zainab binti ja’sy! jangan kau ceraikan ia, dan bertakwalah kepada Allah dengan bersabar menjalani pernikahanmu meski istrimu kurang menghormati’mu’.
Al-Ahzab Ayat 36 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Ahzab Ayat 36, Makna Al-Ahzab Ayat 36, Terjemahan Tafsir Al-Ahzab Ayat 36, Al-Ahzab Ayat 36 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Ahzab Ayat 36
Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73
Raih pahala amal jariyah dengan cara membagikan (share) konten ini kepada yang lainnya. Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)