Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 41 الشورى Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{41} Fussilat / فصلت الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ الزخرف / Az-Zukhruf {43}

Tafsir Al-Qur’an Surat Asy-Syura الشورى (Musyawarah) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 42 Tafsir ayat Ke 41.

Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 41

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَـٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ ﴿٤١﴾

wa lamanintaṣara ba’da ẓulmihī fa ulā`ika mā ‘alaihim min sabīl

QS. Asy-Syura [42] : 41

Arti / Terjemah Ayat

Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Dan orang yang membela diri dari gangguan pelaku yang menzaliminya, mereka tidak berdosa.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Kemudian dalam firman berikutnya di sebutkan:

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. (Asy-Syura: 41)

Tiada dosa atas mereka dalam melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang telah berbuat aniaya terhadap dirinya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi’, telah menceritakan kepada kami Muaz ibnu Mu’az, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya tentang pembelaan diri yang terdapat di dalam firman-Nya: Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah ter­aniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. (Asy-Syura: 41) Maka Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an menceritakan kepadanya sebuah hadis dari Ummu Muhammad, istri ayahnya. Ibnu Aun mengatakan bahwa mereka menduga Ummu Muhammad pernah masuk menemui Siti Aisyah r.a. Lalu Siti Aisyah bercerita kepadanya, “Pada suatu hari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ masuk menemui kami, sedangkan di antara kami terdapat Zainab binti Jahsy r.a. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berisyarat dengan tangannya kepadaku, sedangkan beliau tidak mengetahui bahwa di rumahku ada Zainab. Kemudian aku memberikan isyarat kepada Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa ada Zainab hingga beliau mengetahui isyaratku, lalu beliau menghentikan isyaratnya.” Tetapi rupanya Zainab mengetahui hal itu, maka ia langsung mencaci Aisyah r.a. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarangnya, tetapi Zainab tetap terus mencaci Aisyah. Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada Aisyah, “Balas cacilah dia!” Kemudian aku (Aisyah) mencacinya hingga aku dapat membungkamnya. Zainab pergi dan mendatangi Ali r.a, lalu mengadu kepadanya, “Sesungguhnya Aisyah telah mencacimu dan menjatuhkan namamu.” Maka Fatimah r.a. datang, tetapi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Aisyah adalah kekasih ayahmu, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah.” Akhirnya Fatimah pergi dan mengadu kepada suaminya bahwa sesungguhnya ia telah mengatakan hal tersebut kepada Nabi Saw, tetapi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawabnya dengan jawaban anu dan anu. Maka Ali datang kepada Nabi Saw, dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menerangkan duduk perkaranya kepada Ali.

Demikianlah bunyi riwayat yangdikemukakan oleh Ibnu Aun, tetapi Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an dalam riwayatnya sering mendatangkan hal-hal yang mungkar; ini menjadi kebiasaannya, dan riwayat ini mengandung hal yang mungkar.

Riwayat yang sahih adalah yang berbeda dengan konteks ini seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Khalid ibnu Salamah Al-Fa’fa, dari Abdullah Al-Bahi, dari Urwah yang menceritakan bahwa Siti Aisyah r.a. pernah mengatakan, bahwa tanpa ia sadari dirinya memasuki rumah Zainab tanpa izin, saat itu Zainab sedang marah. Kemudian Zainab berkata kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”Cukuplah bagimu bila kusingkapkan baju kurung anak perempuan Abu Bakar ini.” Lalu Zainab meluapkan emosinya kepadaku, tetapi aku berpaling darinya, hingga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Hai kamu, belalah dirimu!” Akhirnya aku hadapi Zainab, hingga kulihat dia terbungkam tidak dapat menjawab sepatah kata pun terhadapku, dan saat itu kulihat wajah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ cerah.

Demikianlah menurut lafaz hadis yang diketengahkan oleh Imam Nasai.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Hamzah, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Barang siapa yang berdoa untuk (kemudaratan) orang yang telah menganiaya dirinya, maka sesungguhnya ia telah membela dirinya.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Abul Ahwas, dari Abu Hamzah yang nama aslinya Maimun. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan, “Kami tidak mengenal hadis ini kecuali melalui riwayatnya (Abu Hamzah), padahal mengenai hafalannya masih diragukan.”

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

وَلَمَنِ انْتَصَرَ “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri,” dari بَعْدَ ظُلْمِهِ “sesudah teraniaya,” maksudnya, membela diri dari orang yang menganiayanya setelah kezhaliman menimpanya, فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ “tidak ada suatu dosa pun atas mereka.” Artinya, tidak ada dosa atas mereka dalam melakukan pembelaan itu.

FirmanNya, وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ “Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim,” dan FirmanNya, وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya,” menunjukkan bahwa perbuatan penganiayaan dan kezhaliman sudah ada dan telah terjadi. Adapun kalau masih hanya dalam bentuk keinginan untuk melakukan penganiayaan terhadap orang lain dan keinginan untuk bertindak zhalim, namun belum dilakukan sedikitpun, maka yang seperti ini tidak boleh diberi balasan dengan yang serupa. Ia hanya diberi pelajaran yang bisa membuatnya jera dari perkataan atau perbuatan yang berasal darinya.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Tetapi orang-orang yang telah berusaha membela diri mereka setelah di zalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan dan mengecam mereka. 42. Sesungguhnya jalan untuk menyatakan kesalahan dan perbuatan dosa hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih atas perbuatan mereka di hari akhirat kelak.


Asy-Syura Ayat 41 Arab-Latin, Terjemah Arti Asy-Syura Ayat 41, Makna Asy-Syura Ayat 41, Terjemahan Tafsir Asy-Syura Ayat 41, Asy-Syura Ayat 41 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Asy-Syura Ayat 41


Tafsir Surat Asy-Syura Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53