| {22} Al-Hajj / الحج | الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ | النور / An-Nur {24} |
Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun المؤمنون (Orang-Orang Mukmin) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 23 Tafsir ayat Ke 117.
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَـٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ﴿١١٧﴾
wa may yad’u ma’allāhi ilāhan ākhara lā bur-hāna lahụ bihī fa innamā ḥisābuhụ ‘inda rabbih, innahụ lā yufliḥul-kāfirụn
QS. Al-Mu’minun [23] : 117
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.
Barangsiapa meneymbah sesembahan yang lain di samping menyembah Allah yang Esa, padahal tidak ada suatu dalil pun atas keberkahan ibadahnya, maka sesungguhnya balasan atas perbuatannya yang buruk ada di sisi Rabb-nya nanti di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung dan selamat di hari kiamat nanti.
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengancam orang yang mempersekutukan-Nya dengan yang lain dan menyembah selain-Nya bersama Dia, dan Allah memberitahukan bahwa sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah itu tidak mempunyai bukti yang menguatkan perbuatannya, yakni tiada dalil yang melandasi pendapatnya yang demikian itu. Untuk itu Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tiada suatu dalil pun baginya tentang itu.
Kalimat ‘padahal tiada suatu dalil pun baginya tentang itu’ merupakan kalimat sisipan, sedangkan jawab syarat-nya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berikutnya, yaitu:
maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya.
Yakni Allah-lah yang kelak akan menghisab (memperhitungkan) perbuatannya itu. Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberitahukan melalui firman selanjutnya:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.
Artinya, kelak di hari kiamat di hadapan Allah tidak beroleh keberuntungan dan tidak pula keselamatan.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bertanya kepada seorang lelaki, “Apakah yang kamu sembah?” Lelaki itu menjawab, “Saya menyembah Allah, juga menyembah anu dan anu,” seraya menyebut nama beberapa berhala sembahannya yang lain. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bertanya, “Manakah di antara sembahanmu itu bila kamu tertimpa musibah, lalu kamu menyerunya dan dia melenyapkan musibah itu darimu?” Si lelaki itu menjawab, “Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bertanya, “Siapakah di antara sesembahan-sesembahanmu itu yang bila kamu mempunyai suatu keperluan, lalu kamu menyerunya, maka dia memberikan kepadamu apa yang kamu perlukan?” Si lelaki menjawab, “Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia.” Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bertanya, “Lalu apakah yang mendorongmu menyembah berhala-berhala itu di samping Dia? Ataukah kamu mengira bahwa berhala-berhala itu dapat mengalahkan Dia?” Si lelaki berkata dalam jawabannya, “Saya bermaksud mengungkapkan rasa syukur saya kepada-Nya lewat menyembah berhala-berhala itu.” Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Kalian mengetahui, tetapi kalian tidak mengamalkannya.” Setelah lelaki itu masuk Islam, ia berkata, “Saya telah bersua dengan seseorang yang mendebat saya.”
Bila ditinjau dari jalur periwayatannya hadis ini berpredikat mursal. Akan tetapi, Abu Isa At-Turmuzi di dalam kitab Jami’-nya telah meriwayatkannya dengan menyandarkannya kepada Imran ibnul Husain, dari ayahnya, dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, lalu disebutkan hal yang semisal.
Maksudnya, dan barangsiapa menyembah tuhan lain bersama Allah tanpa ada bukti dari perintahNya dan tanpa ada petunjuk atas hal tersebut, maka ini menunjukkan atas sikap (syirik) yang mana dia berpegang teguh padanya. Ini adalah aturan yang melazimkan (syirik). Maka setiap orang yang menyembah tuhan selain Allah, lalu dia tidak mendapatkan petunjuk atas hal tersebut, bahkan bukti petunjuk itu menunjukkan kepada kebatilan sikap (syirik) yang dia pegang teguh, lalu dia berpaling darinya karena zhalim dan keras kepala, maka orang ini akan menghadap Rabb-nya, lalu Dia memberikan balasan atas perbuatannya. Dia tidak akan memberikan kepadanya keberuntungan sedikit pun, karena dia telah kafir.
{إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ} “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” Kekafiran itu mencegah mereka dari keberun-tungan.
117. Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang kebenaran penyembahan itu, maka perhitungannya, yaitu balasannya, hanya pada tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. Melalui ayat ini Allah secara tersirat mengingatkan bahwa orang yang menyembah-Nya dengan tulus ikhlas akan memperoleh keberuntungan. 118. Dan katakanlah, wahai nabi Muhammad, ‘ya tuhanku, berilah ampunan kepadaku dan umatku, dan berilah rahmat kepada kami semua. Engkau adalah maha pengampun dan engkaulah pemberi rahmat yang terbaik. ‘[].
Al-Mu’minun Ayat 117 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Mu’minun Ayat 117, Makna Al-Mu’minun Ayat 117, Terjemahan Tafsir Al-Mu’minun Ayat 117, Al-Mu’minun Ayat 117 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Mu’minun Ayat 117
Tafsir Surat Al-Mu’minun Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118