| {70} Al-Ma’arij / المعارج | الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ | الجن / Al-Jin {72} |
Tafsir Al-Qur’an Surat Nuh نوح (Nuh) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 71 Tafsir ayat Ke 21.
قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ﴿٢١﴾
qāla nụḥur rabbi innahum ‘aṣaunī wattaba’ụ mal lam yazid-hu māluhụ wa waladuhū illā khasārā
QS. Nuh [71] : 21
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya,
Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendurhakai dan mendustakanku. Orang-orang yang lemah di antara mereka telah mengikuti para pemimpin mereka yang sesat. Harta dan anak-anak mereka hanya menambah kesesatan mereka di dunia, dan siksa pedih di akhirat. Para pemimpin sesat dan para pengikutnya yang lemah itu melakukan tipu daya yang amat besar.” Mereka berkata, “Janganlah kalian sekali-kali meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kalian dengan beralih kepada penyembahan Allah semata. Jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan penyembahan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” Ini adalah nama-nama berhala mereka yang biasa disembah selain dari Allah. Ini adalah nama-nama orang-orang saleh dari kalangan mereka. Ketika mereka telah meninggal, setan membisiki kaumnya untuk membuat patung dan rupa mereka dengan harapan kaumnya semakin taat setiap kali melihat patung-patung itu. Ketika kaum itu sudah berlalu, datanglah generasi penerusnya, lalu setan membisikkan kembali bahwa para pendahulu mereka telah menyembah patung-patung itu. Nuh berkata, “Wahai Tuhanku, tidaklah bertambah pada mereka yang menzalimi diri mereka dengan kekafiran dan kedurhakaan kecuali kesesatan yang jauh dari kebenaran.” Karena dosa-dosa, kekufuran, dan kedurhakaan mereka yang terus-menerus, mereka pun ditenggelamkan oleh badai topan. Setelah ditenggelamkan, mereka kemudian dimasukkan ke neraka dengan api yang melahap dan membakar. Maka mereka tidak mendapat seorang pun yang mampu menolong dan menghindarkan mereka dari azab kecuali Allah.
Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nuh a.s. bahwa dia telah menunaikan nahi munkar demi karena Allah; dan Dia Maha Mengetahui tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Bahwa meskipun dengan adanya semua keterangan yang telah disebutkan di atas dan seruan serta dakwah yang beraneka ragam, baik dengan cara targib maupun dengan cara tarhib, kaumnya tetap mendurhakainya dan menentangnya serta mendustakannya. Bahkan mereka lebih suka mengikuti para hartawan yang lupa kepada perintah Allah dan tenggelam ke dalam kesenangan duniawinya yang berlimpah, padahal kenyataannya apa yang mereka miliki itu merupakan istidraj dan penangguhan dari Allah buat mengazab mereka, bukan sebagai penghormatan atau kemuliaan. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:
dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. (Nuh: 21)
Manurut suatu qiraat, ada yang membaca waladuhu dan ada pula yang membacanya wulduhu dalam qiraat yang lainnya, tetapi keduanya mempunyai makna yang berdekatan.
{قَالَ نُوحٌ} “Nabi Nuh berkata” seraya mengadu pada Rabbnya bahwa perkataan, nasihat, dan peringatan ini tidak berguna bagi mereka, {إِنَّهُمْ عَصَوْنِي} “Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku” dalam perintahku, {وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا} “dan (mereka justru) mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka.” Yakni, mereka mendurhakai seorang rasul yang memberi nasihat dan petunjuk pada kebaikan, tapi mereka justru mengikuti golongan besar dan para pembesar yang hanya semakin membuat harta dan anak-anak mereka rugi (binasa dan tidak mendapatkan keuntungan), lantas bagaimana dengan orang yang mereka patuhi dan taati itu sendiri? {وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا} “Dan melakukan tipu daya yang amat besar,” yaitu tipu daya besar dan hebat dalam menentang kebenaran. Para pembesar kaum berkata menyeru pada kesyirikan dan menghiasinya, {لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ} “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) terhadap sesembahansesembahan kamu.” Mereka menyeru sesama mereka untuk bersikap fanatis di atas kesyirikan dan agar mereka tidak meninggalkan kebiasaan nenek moyang mereka terdahulu, mereka menentukan tuhantuhan mereka seraya berkata, {وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا} “Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa,’ yaghuts, ya’uq dan nasr.” Ini sebenarnya adalah namanama orang shalih, dan ketika mereka meninggal dunia, setan menghiasi kaum mereka agar membuat patung mereka demi menyulut semangat mereka untuk beribadah ketika melihat patungpatung itu sesuai anggapan mereka. Masa pun berlalu dan datanglah generasi lain, setan berkata kepada mereka, “Para pendahulu kalian menyembah mereka dan menjadikan mereka sebagai perantara, dengan mereka para pendahulu kalian meminta hujan, mereka menyembah patungpatung itu.” Karena itulah, para pemimpin mereka berpesan untuk tidak meninggalkan penyembahan berhalaberhala ini, {وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا} “dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia),” yakni para pembesar dan pemimpin menyesatkan dengan seruan mereka pada kebanyakan orang. {وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا} “Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kesesatan,” yakni, andaikan kesesatan mereka pada saat aku menyeru mereka pada kebenaran ada kebaikannya, tapi seruan para pembesar itu hanya semakin menyesatkan. Tidak tersisa satu tempat pun untuk keselamatan dan kebaikan mereka.
Kaum nabi nuh yang dinasihati dengan aneka cara itu tidak bergeming, tetap saja membangkang, maka nabi nuh pun kembali mengadu kepada Allah. Nuh berkata, ‘ya tuhanku, sesungguhnya mereka yang kuseru untuk beriman itu durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti pemuka-pemuka masyarakat yaitu orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya kelak di akhirat. “22-23. Dan mereka para pemuka masyarakat itu melakukan tipu daya yang sangat besar untuk menghalangiku menyampaikan dakwah. Dan mere-ka memprovokasi masyarakat dengan berkata, jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu dan untuk menegaskan larangannya itu mereka menyebut satu demi satu tuhan-tuhan yang mereka sembah sambil lebih tegas lagi menyatakan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan wadd, dan jangan pula suwa’, yag”, ya”q dan nasr. Itu semua adalah nama-nama berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum nuh, yang semula nama-nama orang saleh.
Nuh Ayat 21 Arab-Latin, Terjemah Arti Nuh Ayat 21, Makna Nuh Ayat 21, Terjemahan Tafsir Nuh Ayat 21, Nuh Ayat 21 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Nuh Ayat 21
Tafsir Surat Nuh Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28