Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 20 المزمل Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{72} Al-Jin / الجن الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ المدثر / Al-Muddatstsir {74}

Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Muzzammil المزمل (Orang Yang Berselimut) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 73 Tafsir ayat Ke 20.

Al-Qur’an Surah Al-Muzzammil Ayat 20

۞ إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٢٠﴾

inna rabbaka ya’lamu annaka taqụmu adnā min ṡuluṡayil-laili wa niṣfahụ wa ṡuluṡahụ wa ṭā`ifatum minallażīna ma’ak, wallāhu yuqaddirul-laila wan-nahār, ‘alima al lan tuḥṣụhu fa tāba ‘alaikum faqra`ụ mā tayassara minal-qur`ān, ‘alima an sayakụnu mingkum marḍā wa ākharụna yaḍribụna fil-arḍi yabtagụna min faḍlillāhi wa ākharụna yuqātilụna fī sabīlillāhi faqra`ụ mā tayassara min-hu wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa aqriḍullāha qarḍan ḥasanā, wa mā tuqaddimụ li`anfusikum min khairin tajidụhu ‘indallāhi huwa khairaw wa a’ẓama ajrā, wastagfirullāh, innallāha gafụrur raḥīm

QS. Al-Muzzammil [73] : 20

Arti / Terjemah Ayat

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Wahai Nabi, sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui bahwasanya engkau berdiri shalat tahajud terkadang kurang dari dua pertiganya, terkadang seperdua malam, dan terkadang sepertiganya. Demikian pula segolongan sahabat yang turut bersamamu. Hanya Allah yang menetapkan ukuran malam dan siang. Dia Maha Mengetahui ukuran dari keduanya, apa yang terlewat, dan apa yang tersisa. Allah Maha Mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak akan mampu melaksanakan shalat sepanjang malam. Maka Dia memberi keringanan kepada kalian. Karena itu, bacalah yang mudah bagimu dari bacaan Al-Qur’an. Dia Maha Mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang lemah karena sakit untuk melaksanakan shalat malam. Ada juga orang-orang yang berniaga dan bekerja di muka bumi mencari karunia Allah yang halal dan juga orang-orang yang berjihad di jalan Allah untuk menegakkan kalimat-Nya dan menyebarkan agama-Nya. Bacalah yang mudah bagimu dari bacaan Al-Qur’an. Ikutilah tata cara melaksanakan shalat wajib. Tunaikanlah zakat yang wajib. Bersedekahlah dalam cara yang bajik dan baik dari harta kalian dengan berharap keridhan Allah. Kebaikan, ketaatan, dan amal saleh apa pun yang kalian perbuat di dunia, niscaya akan diperoleh balasannya di sisi Allah kelak pada hari kiamat dan lebih besar pahalanya. Mohonlah ampunan Allah dalam semua keadaan. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada kalian.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman dalam ayat selanjutnya:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (Al-Muzzainmil: 20)

Yakni adakalanya kurang dari dua pertiga, dan adakalanya kurang dari seperduanya, demikianlah seterusnya tanpa kamu sengaja. Tetapi memang kamu tidak mampu menunaikan qiyamul lail yang diperintahkan kepadamu dengan sepenuhnya, mengingat pelaksanaannya terasa berat olehmu. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. (Al-Muzzammil: 20)

Yaitu adakalanya antara siang dan malam hari sama panjangnya, dan adakalanya malam hari mengambil sebagian waktu siang hari sehingga lebih panjang daripada siang hari. Demikian pula sebaliknya, terkadang siang lebih panjang daripada malam hari karena sebagian waktunya diambil oleh siang hari.

Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. (Al-Muzzammil: 20)

Yakni tidak dapat menentukan batas waktu kefarduan yang diwajibkan oleh Allah kepadamu dalam qiyamul lail.

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20)

Maksudnya, tanpa batasan waktu. Tetapi kerjakanlah salat lail menurut kemampuanmu dan yang mudah olehmu untuk dikerjakan. Dalam ayat ini salat diungkapkan dengan kata-kata bacaan Al-Qur’an, yang berarti salatlah apa yang mudah bagimu untuk dikerjakan tanpa batasan waktu. Hal yang semakna disebutkan di dalam surat Al-Isra melalui firman-Nya:

dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu. (Al-Isra: 110)

Yaitu bacaan Al-Qur’an dalam salatmu.

dan janganlah pula merendahkannya. (Al-Isra: 110)

Murid-murid Imam Abu Hanifah menyimpulkan dari makna ayat ini, yaitu firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Bahwa tidak wajib menentukan bacaan Al-Fatihah dalam salat. Bahkan seandainya seseorang membacanya atau membaca surat lainnya, sekalipun hanya satu ayat, itu sudah cukup baginya. Dan mereka memperkuat pendapatnya dengan dalil hadis yang menceritakan seseorang yang berlaku buruk terhadap salatnya. Hadisnya terdapat di dalam kitab Sahihain, yang antara lain menyebutkan: Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.

Jumhur ulama menyanggah pendapat mereka dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ubadah ibnus Samit, yang juga terdapat di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda:

Tidaksah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.

Di dalam kitab Sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda:

Setiap salat yang tidak dibacakan padanya Ummul Qur’an, maka salat itu cacat, maka salat itu cacat, maka salat itu cacat, tidak sempurna.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Ibnu Khuzaimah, dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’:

Tidak cukup salat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur’an.

Adapun firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. (Al-Muzzammil: 20)

Yakni Allah mengetahui bahwa di antara umat ini ada orang-orang mempunyai ‘uzur dalam meninggalkan qiyamul lail, seperti karena sakit hingga tidak mampu mengerjakannya, juga orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan di muka bumi karena mencari sebagian dari karunia Allah dengan bekerja dan berdagang, dan orang-orang yang lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lebih penting bagi mereka, yaitu berjihad di jalan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ Ayat ini—dan bahkan surat ini—secara keseluruhan adalah Makkiyyah. dan saat itu peperangan masih belum disyariatkan. Dan hal ini merupakan salah satu dari bukti kenabian yang paling besar, yaitu menyangkut pemberitaan kejadian yang akan datang. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (AL-Muzzammil: 20) Artinya, kerjakanlah salat dengan membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an bagimu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Abu Raja alias Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan, “‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang hafal Al-Qur’an di luar kepalanya, lalu ia tidak membacanya dalam salat malam hari kecuali hanya salat fardu saja?” Al-Hasan menjawab, “Berarti ia menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bantal tidurnya, semoga Allah melaknat orang yang seperti itu.” Al-Hasan melanjutkan, bahwa Allah telah berfirman sehubungan dengan seorang hamba yang saleh: Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Yusuf: 68) Dan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya). (Al-An’am: 91) Aku bertanya, “Hai Abu Sa’id, Allah telah berfirman: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Al-Hasan menjawab, “Benar, sekalipun hanya lima ayat.”

Ini jelas menggambarkan pendapat Al-Hasan, bahwa dia mempunyai pendapat yang mewajibkan bagi orang yang hafal Al-Qur’an membacanya dalam qiyamullail, sekalipun hanya dengan beberapa ayat darinya. Karena itulah disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah ditanya mengenai seseorang yang tidur sampai pagi hari. Maka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab:

Dia adalah orang yang setan telah mengencingi telinganya.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud dari hadis ini ialah orang yang meninggalkan salat fardu karena bangun kesiangan. Menurut pendapat yang lain, karena meninggalkan qiyamul lail, Di dalam kitab sunan disebutkan:

Salat witirlah, hai ahli Al-Qur’an!

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

Barangsiapa yang tidak salat witir, bukan termasuk golongan kami.

Dan yang lebih aneh dari semuanya itu adalah sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Bakar ibnu Abdul Aziz, salah seorang yang bermazhab Hambali, ia mengatakan bahwa qiyam bulam Ramadan hukumnya wajib; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sa’id Farqadul Hadrad, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad alias Muhammad ibnu Yusuf Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Tawus (salah seorang putra Tawus), dari ayahnya, dari Tawus, dari Ibnu Abbas, dari Nabi sehubungan dengan makna firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil: 20) Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

Seratus ayat.

Hadis ini garib sekali, kami belum pernah melihatnya selain dalam mu’jam Imam Tabrani rahimahullah.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. (Al-Muzzammil: 20)

Yakni dirikanlah salat wajib dan tunaikanlah zakat yang fardu. Dalam ayat ini terkandung dalil bagi orang yang mengatakan bahwa perintah wajib zakat diturunkan di Mekah, tetapi kadar-kadar nisab yang harus dikeluarkan masih belum dijelaskan dengan rinci kecuali hanya di Madinah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah serta selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf telah mengatakan bahwa Sesungguhnya ayat ini telah me-mansukh (merevisi) hukum yang pada mulanya Allah mewajibkan qiyamul lail atas kaum muslim. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang jarak tenggang masa di antara kedua hukum tersebut, ada beberapa pendapat mengenainya di kalangan mereka. Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab lelaki tersebut melalui sabdanya:

Lima kali salat dalam sehari semalam.

Lelaki itu bertanya, “Apakah ada salat lain yang diwajibkan atas diriku?” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab:

Tidak ada. terkecuali jika kamu hendak salat sunat.

Adapun firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. (Al-Muzzammil: 20)

Yaitu dalam bentuk sedekah-sedekah, karena sesungguhnya Allah akan membalasnya dengan balasan yang terbaik dan berlimpah. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Al-Baqarah: 245)

Adapun firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎:

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. (Al-Muzzammil: 20)

Yakni semua sedekah yang kamu keluarkan dari tangan kalian, pahalanya akan kalian peroleh, dan hal ini lebih baik daripada harta yang kamu simpan buat dirimu sendiri di dunia.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim ibnul Haris ibnu Suwaid yang mengatakan bahwa Abdullah pernah berkata bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda, “Siapakah di antara kamu yang hartanya lebih ia cintai daripada harta ahli warisnya?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tiada seorang pun dari kami melainkan hartanya lebih disukainya ketimbang harta ahli warisnya.” Rasulullah’Saw. bersabda, “Jelaskanlah alasan kalian!” Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui selain itu, ya Rasulullah.” Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab: Sesungguhnya harta seseorang dari kamu hanyalah apa yang dia gunakan dan harta ahli warisnya adalah yang dia simpan.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui Hafs ibnu Gayyas, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui Abu Mu’awiyah, keduanya dari Al-A’masy dengan sanad yang sama.

Selanjutnya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman:

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Muzzammil: 20)

Artinya, perbanyaklah berzikir kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya dalam semua urusanmu, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada siapa yang memohon ampun kepada-Nya.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Di permulaan surat ini Allah جَلَّ جَلالُهُmemerintahkan RasulNya untuk shalat di seperdua malam, dua pertiga atau sepertiganya. Dan hukum asalnya, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah teladan bagi umatnya dalam hukumhukum. Dan di tempat ini Allah جَلَّ جَلالُهُmenjelaskan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunaikan perintah tersebut dan juga segolongan dari orang-orang yang beriman. Mengingat penentuan waktu pelaksanaan shalat malam berat bagi orang, maka Allah جَلَّ جَلالُهُmengabarkan bahwa Dia amat memudahkannya seraya berfirman, {وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ}”Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang,” yakni, mengetahui ukuran keduanya, mengetahui apa yang berlalu dan yang masih tersisa dari keduanya. {عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ}”Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batasbatas waktuwaktu itu,” artinya, kalian tidak akan mengetahui ukurannya secara tepat, tidak kurang dan tidak lebih, karena hal itu akan menuntut sikap waspada dan beban yang lebih. {فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ}”Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari alQur`an,” yakni, yang kalian bisa dan yang tidak berat bagimu. Karena itu orang yang shalat malam diperintahkan untuk tetap shalat selama masih kuat. Kemudian bila lelah, malas atau mengantuk, hendaklah beristirahat agar bisa melaksanakan shalat dengan tenang dan nyaman.

Selanjutnya Allah جَلَّ جَلالُهُmenyebutkan sebagian sebab yang sesuai untuk meringankan, {عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى}”Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit,” berat bagi mereka untuk menjalankan shalat di seperdua, sepertiga atau dua pertiga malam terakhir. Untuk itu, orang yang sakit hendaklah shalat sebatas kemampuannya. Dalam shalat malam tidak diperintahkan berdiri bila hal itu terasa memberatkan. Bahkan bila shalat sunnah terasa berat, boleh ditinggalkan dan yang bersangkutan tetap mendapatkan pahala seperti ketika mengerjakannya pada saat masih sehat. {وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ} “Dan orang-orang lainnya berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah,” yakni, Allah جَلَّ جَلالُهُmengetahui bahwa di antara kalian ada yang bepergian untuk urusan perdagangan demi mencukupi diri agar tidak membebani orang lain dan menahan diri untuk tidak memintaminta. Kondisi orang yang bepergian cocok untuk diberi keringanan. Karena itu orang yang bepergian, shalat wajibnya diberi keringanan. Ia dibolehkan untuk menjamak dua shalat dalam satu waktu dan menqashar shalat yang empat rakaat. {آخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ} “Dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari alQur`an.” Allah جَلَّ جَلالُهُmenyebutkan dua keringanan; keringanan bagi orang sehat dan tidak bepergian untuk menjaga vitalitasnya tanpa harus memaksakan diri menentukan waktu shalat malam tapi cukup mencari waktu shalat yang utama, yaitu sepertiga malam terakhir setelah seperdua pertama. Yang kedua adalah keringanan bagi orang sakit, orang yang bepergian, baik untuk urusan perdagangan atau ibadah seperti jihad, haji atau yang lainnya. Yang bersangkutan juga mesti memelihara sesuatu yang tidak membebaninya. Karena itu, segala puja dan puji hanya bagi Allah جَلَّ جَلالُهُsemata yang tidak membuat kerumitan dalam Agama bagi kita, sebaliknya Allah جَلَّ جَلالُهُmempermudah syariatNya serta memperhatikan kondisikondisi manusia serta kepentingan Agama, raga, dan dunia mereka.

Kemudian Allah جَلَّ جَلالُهُmemerintahkan hamba-hamba-Nya untuk dua ibadah yang merupakan induk dan inti dari ibadah; yaitu mendirikan shalat yang Agama tidak bisa tegak tanpanya dan menunaikan zakat yang merupakan bukti keimanan. Dengan zakat, kesetaraan antara orang-orang fakir miskin bisa terpenuhi. Allah جَلَّ جَلالُهُberfirman, {وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ}”Dan dirikanlah shalat,” yakni, dengan rukunrukunnya, batasanbatasannya, syaratsyaratnya dan seluruh penyempurnapenyempurnanya. {وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا}”Dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik,” yakni, murni demi mengharap Wajah Allah جَلَّ جَلالُهُdengan niat tulus dan teguh dari hati serta dengan harta yang baik. Pinjaman baik ini mencakup sedekah wajib dan sunnah.

Selanjutnya Allah جَلَّ جَلالُهُmenganjurkan untuk mengerjakan perbuatan baik secara umum seraya berfirman, {وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا} “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya,” kebaikan itu pahalanya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan hingga berlipatlipat. Perlu diketahui, kebaikan seberat biji atom dalam dunia ini sebanding dengan berlipatlipat nilai dunia serta segala apa pun yang ada di atasnya serta apa pun yang terdapat di negeri penuh nikmat abadi berupa kenikmatankenikmatan dan kesenangankesenangan. Kebaikan dunia ini merupakan bahan kebaikan di negeri keabadian, benih, asal dan asasnya. Alangkah ruginya waktuwaktu yang berlalu dalam kelalaian dan alangkah ruginya waktu yang berlalu tanpa amal baik. Alangkah ruginya hati yang tidak terpengaruh oleh petuah Penciptanya dan tidak berbekas seruan rindu Dzat Yang Maha Pengasih padanya ketimbang kasihnya terhadap dirinya sendiri. Segala puji hanya bagiMu ya Allah جَلَّ جَلالُهُ,kepadaMulah tempat mengadu, padaMu kami mohon pertolongan, tidak ada daya dan kekuatan selain dariMu.

{وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}”Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Di dalam perintah istighfar setelah dorongan berbuat ketaatan dan kebaikan terdapat faidah besar, sebab manusia itu mungkin tidak melakukan perintah secara sempurna, yang mungkin tidak dikerjakan sama sekali atau dikerjakan tapi tidak sempurna. Untuk itu manusia diperintahkan untuk menutupi kekurangan di atas dengan beristighfar. Manusia selalu berbuat dosa di malam dan di siang hari, bila tidak direngkuh dengan rahmat dan maghfirah Allah جَلَّ جَلالُهُ,tentu binasa.

Selesai tafsir Surat alMuzzammil. Segala puji bagi Allah جَلَّ جَلالُهُsemata.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Jalan lurus menuju tuhan mungkin dirasakan berat bagi sementara orang, maka ayat ini memberi petunjuk solusinya. Sesungguhnya tuhanmu senantiasa mengetahui bahwa engkau, wahai nabi Muhammad, terkadang berdiri untuk mengerjakan salat kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang-orang yang bersamamu yaitu para sahabat yang mengikutimu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu secara pasti dan rinci dalam melaksanakan salat, maka dia memberi keringanan kepadamu menyangkut apa yang telah ditetapkan-Nya sebelum ini, karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit sehingga akan sulit melaksanakan salat malam seperti yang diperintahkan, dan ada juga yang berjalan di bumi yaitu bepergian jauh untuk mencari sebagian karunia Allah baik urusan perniagaan atau menuntut ilmu. Dan Allah mengetahui juga akan ada yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an dan laksanakanlah salat secara baik dan berkesinambungan, tunaikanlah zakat secara sempurna dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik yaitu segala pemberian di jalan Allah di luar kewajiban zakat. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasan-Nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan di samping amalan tersebut maka mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang. 1-2. Di akhir surah al-Muzammil berisi berita gembira bagi yang berbuat kebajikan, di awal surah ini berisi perintah untuk bersemangat menyeru kepada kebajikan. Wahai orang yang berkemul atau berselimut yakni nabi Muhammad! bangunlah dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, lalu berilah peringatan!.


Al-Muzzammil Ayat 20 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Muzzammil Ayat 20, Makna Al-Muzzammil Ayat 20, Terjemahan Tafsir Al-Muzzammil Ayat 20, Al-Muzzammil Ayat 20 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Muzzammil Ayat 20


Tafsir Surat Al-Muzzammil Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20