Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 28 الحديد Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{56} Al-Waqi’ah / الواقعة الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ المجادلة / Al-Mujadilah {58}

Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Hadid الحديد (Besi) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 57 Tafsir ayat Ke 28.

Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 28

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿٢٨﴾

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa āminụ birasụlihī yu`tikum kiflaini mir raḥmatihī wa yaj’al lakum nụran tamsyụna bihī wa yagfir lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

QS. Al-Hadid [57] : 28

Arti / Terjemah Ayat

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Wahai orang-orang yang beriman, laksanakan perintah Allah dan jauhilah larangan-Nya. Berimanlah kepada rasul-Nya niscaya Allah akan memberi kalian dua kali lipat rahmat-Nya dan akan menciptakan untuk kalian cahaya sebagai penerang sehingga kalian mendapat hidayah. Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang bagi hamba-hamba-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Dalam keterangan terdahulu —yaitu pada riwayat Imam Nasai dari Ibnu Abbas— disebutkan bahwa Ibnu Abbas menakwilkan ayat ini dengan pengertian orang-orang yang beriman dari kalangan Ahli Kitab, dan bahwa mereka akan mendapat pahala dua kali, seperti yang disebutkan di dalam surat Al-Qashash; dan seperti yang disebutkan di dalam hadis Asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda:

tiga macam orang yang mereka diberi pahala dua kali, yaitu seseorang dari Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya, lalu beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala. Dan seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak majikannya, maka baginya dua pahala. Dan seorang lelaki yang mendidik budak perempuannya dengan pendidikan yang baik, kemudian ia memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua pahala.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan pula hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing. Sependapat dengan Ibnu Abbas dalam takwil ayat ini adalah Atabah ibnu Abu Hakim dan lain-lainnya, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa ketika Ahli Kitab merasa berbangga diri karena mereka diberi pahala dua kali, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menurunkan ayat berikut kepada Nabi-Nya berkenaan dengan hak umat ini, yaitu: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan kepadamu pahala dua bagian. (Al-Hadid: 28) Yakni dua kali lipat. sebagai rahmat dari-Nya. (Al-Hadid: 28) dan Allah memberi lagi tambahan kepada mereka. dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan. (Al-Hadid: 28) Yaitu petunjuk yang dengannya orang yang bersangkutan dapat melihat, terhindar dari kebutaan dan kebodohan, dan Allah memberikan kepadanya ampunan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ melebihkan mereka (umat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dengan mendapat cahaya dan ampunan.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Sa’id ibnu Jubair. Dan ayat ini semakna dengan firman-Nya yang menyebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mw. Dan Allah memiliki karunia yang besar. (Al-Anfal: 29)

Sa’id ibnu Abdul Aziz mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a. pernah bertanya kepada salah seorang pendeta Yahudi tentang keutamaan amal kebaikan yang dilipatkan bagi mereka (kaum Yahudi). Maka ia menjawab, “Tiga ratus lima puluh kali lipat kebaikan.” Sa’id ibnu Abdul Aziz melanjutkan, bahwa lalu Umar memuji kepada Allah karena dia telah memberikan kepada umat ini pahala dua bagian. Kemudian Sa’id menyebutkan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎: niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian. (Al-Hadid: 28) Lalu Sa’id mengatakan bahwa pahala dua bagian itu dapat diperoleh pula dalam salat Jumat. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Perumpamaan kamu dan orang-orang Yahudi serta orang-orang Nasrani sama dengan seorang lelaki yang mempekerjakan banyak buruh. Lalu ia berkata, “Siapakah yang mau bekerja untukku mulai dari salat Subuh sampai pertengahan siang hari dengan imbalan satu qirat per orangnya?” Ingatlah yang mula-mula bekerja adalah orang-orang Yahudi. Kemudian lelaki itu berkata, “Siapakah yang mau bekerja untukku mulai dari salat Lohor sampai salat Asar dengan imbalan upah satu qirat per orangnya?” Ingatlah, berikutnya yang bekerja adalah orang-orang Nasrani. Kemudian lelaki itu berkata lagi, “Siapakah yang mau bekerja untukku mulai dari salat Asar sampai mentari tenggelam dengan upah dua qirat per orangnya?” Ingatlah, maka kalianlah yang bekerja. Maka orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi marah, mereka mengatakan, “Kami bekerja lebih berat, tetapi upah kami sedikit.” Lelaki itu bertanya, “Apakah aku berbuat aniaya terhadap kalian tentang sesuatu dari upah kalian?” Mereka menjawab, “Tidak.” Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya upah dua qirat itu adalah semata-mata karunia dariku, yang aku berikan kepada siapa pun yang aku kehendaki.”

Imam Ahmad mengatakan bahwa hadis ini telah diceritakan pula kepada kami oleh Mu-ammal, dari Sufyan, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar dengan lafaz yang semisal dengan hadis Nafi’, dari Ibnu Umar. Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini secara munfarid, maka dia meriwayatkannya dari Sulaiman ibnu Harb, dari Hammad, dari Nafi’ dengan sanad yang sama; juga dari Qutaibah, dari Al-Lais, dari Nafi’ dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Yazid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang telah bersabda: Perumpamaan orang-orang muslim, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani sama dengan seorang lelaki yang mempekerjakan suatu kaum; mereka ditugaskan untuk melakukan suatu pekerjaan untuknya sehari penuh sampai malam hari dengan upah yang telah diketahui (disepakati). Maka bekerjalah mereka sampai dengan tengah hari, lalu mereka berkata, “Kami tidak membutuhkan lagi upah yang engkau janjikan kepada kami, dan apa yang telah kami kerjakan anggap saja batal.” Lelaki itu berkata kepada mereka, “Jangan kamu hentikan, tetapi rampungkanlah sisa pekerjaan kalian, lalu ambillah upah kalian dengan penuh, ” tetapi mereka menolak dan meninggalkan pekerjaannya. Lelaki itu mempekerjakan kaum lainnya sesudah mereka, dan ia mengatakan, “Sempurna­kanlah pekerjaan ini secara penuh, dan kalian akan mendapat upah yang telah aku janjikan kepada mereka.” Maka mereka pun mulai bekerja; tetapi ketika mereka usai dari salat Asar, mereka mengatakan, “Apa yang telah kami kerjakan anggap saja -batal, dan silakan ambil saja upah yang telah engkau janjikan kepada kami.” Lelaki itu berkata, “Sempurnakanlah sisa pekerjaan kalian, karena sesungguhnya waktu yang tersisa hanya tinggal sedikit lagi, ” tetapi mereka tetap menolak. Maka lelaki itu mempekerjakan kaum lainnya dengan syarat bahwa hendaknya mereka bekerja untuknya selama sisa waktu yang masih ada. Dan ternyata mereka bekerja selama sisa waktu yang ada hingga matahari tenggelam, akhirnya mereka memborong upah kedua kaum yang sebelumnya. Maka demikianlah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka terima dari cahaya (hidayah) ini.

Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini secara munfarid.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Ada kemungkinan pembicaraan (pesan) ayat ini ditujukan kepada ahli kitab, yaitu orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Allah جَلَّ جَلالُهُ memerintah mereka mengerjakan tuntutan keimanan mereka, yaitu bertakwa kepada Allah جَلَّ جَلالُهُ dan meninggalkan berbagai kemaksiatan serta beriman kepada RasulNya, Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Jika mereka mau mengerjakan hal itu, maka Allah جَلَّ جَلالُهُ, memberi mereka كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ”dua bagian dari rahmatNya.” Maksudnya, dua bagian pahala, satu bagian atas keimanan mereka terhadap para nabi terdahulu dan satu bagian lain atas keimanan mereka kepada Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kemungkinan lain, ayat ini bersifat perintah umum yang mencakup ahli kitab dan lainnya dan inilah kemungkinan yang zahir. Allah جَلَّ جَلالُهُ memerintah semua manusia untuk beriman dan bertakwa yang mencakup seluruh bagian agama, baik secara lahir maupun batin, baik yang pokok maupun cabang-cabangnya. Jika mereka mau mengerjakan semua perintah agung ini, Allah جَلَّ جَلالُهُ pasti memberikan كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ “dua bagian dari rahmatNya,” tidak ada yang mengetahui ukuran serta sifatnya kecuali hanya Allah جَلَّ جَلالُهُ semata. Satu bagian atas keimanan dan bagian lain atas ketakwaan. Atau satu bagian pahala atas pelaksanaan berbagai perintah dan satu bagian pahala lain karena meninggalkan berbagai larangan, atau kemungkinan bahwa penyebutan bentuk ganda dalam ayat ini menunjukkan pemberian pahala yang berulang. وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ “Dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan,” maksudnya, memberi kalian ilmu dan cahaya yang kalian jadikan lentera untuk berjalan dalam gelapnya kebodohan dan agar penghuni langit dan bumi memintakan ampunan untuk kalian. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ “Dan Allah جَلَّ جَلالُهُ memiliki karunia yang besar.” Sehingga banyaknya pahala yang diberikan oleh Pemilik karunia yang besar itu tidak perlu diherani; karuniaNya meliputi seluruh penghuni langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari karunia Allah جَلَّ جَلالُهُ barang sekejap mata sekalipun bahkan tidak lebih sedikit dari itu.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Allah menerangkan keingkaran ahli kitab pada kenabian Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah. Laksa-nakan semua perintah-Nya dan jauhilah semua larangan-Nya, dan berimanlah kepada rasul-Nya, yaitu nabi Muhammad yang diutus untuk melengkapi dan meluruskan syariat terdahulul. Jika kamu melaksanakannya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, yaitu kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat, dan menjadikan cahaya terang untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dengan tenang tanpa takut tersesat, serta dia akan mengampuni semua dosa kamu bila kamu bertobat dengan sungguh-sungguh. Dan Allah maha pengampun atas dosamu dan dosa seluruh manusia yang bertobat, maha penyayang kepada semua makhluk-Nya. 29. Semua peringatan itu disampaikan agar ahli kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah jika mereka tidak beriman kepada nabi Muhammad dan mengikuti sunahnya, dan agar mereka mengetahui bahwa karunia itu ada di tangan Allah; dia memberikannya kepada siapa yang dia kehendaki, yaitu mereka yang beriman dan berbuat kebajikan. Dan Allah mempunyai karunia yang besar bagi siapa saja yang mematuhi ajaran-Nya.


Al-Hadid Ayat 28 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Hadid Ayat 28, Makna Al-Hadid Ayat 28, Terjemahan Tafsir Al-Hadid Ayat 28, Al-Hadid Ayat 28 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Hadid Ayat 28


Tafsir Surat Al-Hadid Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29