| {67} Al-Mulk / الملك | الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ | الحاقة / Al-Haqqah {69} |
Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Qalam القلم (Pena) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 68 Tafsir ayat Ke 4.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾
wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm
QS. Al-Qalam [68] : 4
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
Wahai Muhammad, dalam waktu dekat engkau dan orang-orang kafir itu akan melihat siapakah di antara kalian yang gila
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam: 4)
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya engkau Muhammad, berada dalam agama yang hebat, yaitu agam Islam.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ad-Dahhak dan Ibnu Zaid.
Menurut Atiyyah, disebutkan benar-benar berbudi pekerti yang agung. Ma’mar telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa ia pernah bertanyakepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka Aisyah menjawab:
Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.
Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an.
Sa’id ibnu Abu Arubah mengatakan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam: 4) Diceritakan kepada kami bahwa Sa’d ibnu Hisyam pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka Aisyah balik bertanya kepadanya, “Bukankah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Sa’id menjawab, “Benar,” Aisyah berkata: Maka sesungguhnya akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah Al-Qur’an.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa’d ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Aisyah balik bertanya, “Bukankah kamu telah membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Maka ia berkata: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.
Ini merupakan ringkasan dari suatu hadis yang cukup panjang.
Imam Muslim telah meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis Qatadah dengan panjang lebar yang nanti akan diterangkan di dalam tafsir surat Al-Muzzammil, insya Allah.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka Aisyah menjawab: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Qais ibnu Wahb, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Sawad yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka Aisyah balik bertanya, bahwa bukankah kamu telah membaca firman-Nya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam; 4) Lalu aku berkata, “Ceritakanlah kepadaku salah satu dari contohnya.” Aisyah r.a. menceritakan bahwa ia membuat makanan untuk Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan bertepatan dengan itu Hafsah pun membuat makanan untuk beliau.’ Lalu ia berpesan kepada budak perempuannya yang akan disuruhnya mengantarkan makanan itu, “Pergilah kamu, dan lihatlah bila Hafsah datang dengan membawa makanannya sebelumku. Maka buanglah makanannya.” Ternyata Hafsah pun datang dengan membawa makanannya. Maka budak perempuan Aisyah itu menjatuhkan dirinya dan mengenai mangkuk makanan Hafsah hingga mangkuknya pecah dan makanannya terjatuh, sedangkan mangkuk yang dipakai adalah barang pecah belah. Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memungutnya dan bersabda, “Gantilah olehmu, atau engkau harus mengganti – Aswad ragu – wadah ini dengan wadahmu.” Setelah itu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan, dari Sa’d ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia datang kepada Aisyah Ummul Muminin, lalu menanyakan kepadanya tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an, tidakkah kamu telah membaca firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur’ (AL-Qalam: 4).”
Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkan hal yang semisal melalui hadis Al-Hasan.
Ibnu Jarir mengatakan, telah -menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Abuz Zahiriyah, dari Jubair ibnu Nafir yang mengatakan bahwa ia melakukan ibadah haji, lalu mengunjungi Aisyah r.a. dan menanyakan kepadanya tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka ia menjawab: Akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah Al-Qur’an.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdur Rahman ibnu Mahdi. Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah ibnu Saleh dengan sanad yang sama.
Makna yang dimaksud dari kesemuanya ini menunjukkan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seorang yang mengamalkan Al-Qur’an; mengamalkan perintahnya dan manjauhi larangannya, yang hal ini telah tertanam dalam diri beliau sebagai watak dan pembawaannya serta sebagai akhlak yang telah terpatri dalam sepak terjang beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Maka apa pun yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, beliau pasti mengerjakannya; dan apa pun yang dilarang oleh Al-Qur’an, beliau pasti meninggalkannya. Hal ini di samping watak yang dibekalkan oleh Allah dalam diri beliau berupa akhlak yang besar seperti sifat pemalu, dermawan, berani, pemaaf, penyantun, dan semua akhlak yang terpuji. Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, dari Anas yang telah mengatakan:
“Aku menjadi pelayan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ selama sepuluh tahun, dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata, “Husy!” Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, “Mengapa engkau melakukannya?” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya kulakukan, “Mengapa tidak engkau lakukan?” Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seorang yang paling baik akhlaknya, dan aku belum pernah memegang kain sutra, baik yang tebal maupun yang tipis dan tidak pula sesuatu yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dan aku belum pernah mencium minyak kesturi dan tidak pula wewangian lainnya yang lebih harum daripada bau keringat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yuuus, dari ayahnya, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Barra r.a. telah mengatakan: Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya; tubuh beliau tidak terlalu tinggi, dan tidak pula terlalu pendek.
Hadis-hadis yang menerangkan bab ini cukup banyak, Imam Abu Isa At-Turmuzi telah menghimpunnya di dalam Kitabusy Syama’il.
//Dan kampungsunnah telah merilis ebook ringkasan dari kitab syamail yang diringkas dan di tahqiq oleh syaikh Al-Albani, silakan rujuk kesana//
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang telah mengatakan: Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sama sekali belum pernah memukulkan tangannya kepada seorang pun dari pelayannya, dan belum pernah memukul seorang pun dari istri (beliau), dan belum pernah memukulkan tangannya kepada sesuatu pun kecuali bila dalam berjihad di jalan Allah. Dan tidak pernah beliau disuruh memilih di antara dua perkara melainkan memilih yang paling disukai dan paling ringan di antara keduanya terkecuali bila (yang ringan itu) berupa dosa. Maka jika hal itu berupa dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Dan beliau tidak pernah melakukan suatu pembalasan yang pernah ditimpakan kepada dirinya, melainkan bila batasan-batasan Allah dilanggar, maka beliau baru melakukan pembalasan dan itu hanyalah karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muhammad, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Al-Qa’qa’ ibnu Hakim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.
Karena itu Allah جَلَّ جَلالُهُberfirman, {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ} “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Maksudnya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah جَلَّ جَلالُهُkepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ia menjawab,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.
“Akhlaknya adalah alQur`an.”
Ini semakna dengan Firman Allah جَلَّ جَلالُهُ,
{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ}
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (AlA’raf: 199).
{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ}
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.” (Ali Imran: 159).
{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيُصُ عَلَيْكُم بِالمْؤُمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ}
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (AtTaubah: 128).
Dan ayatayat lain yang menunjukkan sifatsifat mulia Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik.
Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabatsahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melakukan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
1-4. Akhir surah sebelumnya, berbicara tentang dua kelompok yang saling bertolak belakang. Satu dibinasakan dan satu diselamatkan. Di awal surah ini dijelaskan sifat siapa yang akan mendapat keselamatan dan siapa yang akan mendapat azab. N’n. Demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tuliskan. Dengan karunia tuhanmu yang berupa risalah dan nubuwah, engkau, wahai nabi Muhammad sekali-kali bukanlah orang gila sebagaimana yang dituduhkan oleh kaum musyrik. Dan sesungguhnya berkat perjuangan dan kesabaranmu engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Karena tuhanmu yang mendidikmu dengan akhlak Al-Qur’an. 5-6. Maka kelak engkau wahai nabi Muhammad akan melihat dan me-ngetahui, dan mereka yaitu orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui ketika telah jelas kebenaran pada hari kiamat, siapa di antara kamu yang gila engkau atau mereka’.
Al-Qalam Ayat 4 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Qalam Ayat 4, Makna Al-Qalam Ayat 4, Terjemahan Tafsir Al-Qalam Ayat 4, Al-Qalam Ayat 4 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Qalam Ayat 4
Tafsir Surat Al-Qalam Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52