Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 149 البقرة Lengkap Arti Terjemah Indonesia

{1} Al-Fatihah / الفاتحة الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ آل عمران / Ali ‘Imran {3}

Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah البقرة (Sapi Betina) lengkap dengan tulisan arab latin, arti dan terjemah Bahasa Indonesia. Surah ke 2 Tafsir ayat Ke 149.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 149

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿١٤٩﴾

wa min ḥaiṡu kharajta fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa innahụ lal-ḥaqqu mir rabbik, wa mallāhu bigāfilin ‘ammā ta’malụn

QS. Al-Baqarah [2] : 149

Arti / Terjemah Ayat

Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia)

Kemana pun kamu wahai Nabi berangkat sebagai musafir dan kamu hendak menegakkkan shalat, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Menghadapmu ke sana merupakan kebenaran dari Rabb-mu yang pasti. Dan Allah tidak melalaikan apa yang kalian lakukan dan akan membalas kalian karenanya.

Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Apa yang disebutkan oleh ayat ini adalah perintah yang ketiga dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ yang memerintahkan agar semuanya dari berbagai penjuru dunia menghadap ke arah kiblat.

Mufassirin berbeda pendapat mengenai hikmah yang terkandung di dalam pengulangan sebanyak tiga kali ini. Menurut suatu pendapat, hal ini merupakan taukid (pengukuhan), mengingat ia merupakan permulaan nasikh yang terjadi di dalam Islam, menurut apa yang di-nas-kan oleh Ibnu Abbas dan lain-lainnya.

Menurut pendapat yang lain bahkan hal ini merupakan tahapan dari berbagai keadaan. Tahapan yang pertama ditujukan kepada orang yang menyaksikan Ka’bah, tahapan yang kedua ditujukan kepada orang yang berada di dalam kota Mekah tetapi tidak melihat Ka’bah, dan tahapan yang ketiga ditujukan bagi orang yang berada di kota-kota lainnya. Demikianlah menurut pengarahan yang diketengahkan oleh Fakhrud Din Ar-Razi.

Menurut Al-Qurtubi, tahapan yang pertama ditujukan kepada orang yang berada di dalam kota Mekah, tahapan yang kedua ditujukan kepada orang yang tinggal di kota-kota lainnya, sedangkan tahapan yang ketiga ditujukan kepada orang yang berada di dalam perjalanannya. Demikianlah menurut apa yang ditarjihkan oleh Imam Qurtubi dalam jawabannya.

Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya yang demikian itu dikemukakan hanyalah karena ia berkaitan dengan konteks yang sebelum dan yang sesudahnya. Pada awalnya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. (Al Baqarah:144)

Sampai dengan firman-Nya:

Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah:144)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang permintaan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang dikabulkan-Nya dan Allah memerintahkannya untuk menghadap ke arah kiblat yang disukainya. Kemudian dalam tahapan yang kedua Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ berfirman:

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan.

Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى‎ menyebutkan bahwa perintah tersebut adalah kebenaran yang datang dari Allah. Pada tahapan pertama disebutkan bahwa kiblat Ka’bah tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sendiri, dan padanya disebutkan bahwa hal tersebut merupakan kebenaran yang disukai dan diridai Allah pula.

Kemudian dalam tahapan yang ketiga disebutkan suatu hikmah yang mematahkan hujah orang-orang yang menentangnya dari kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang memprotes masalah Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang menghadap ke arah kiblat mereka, padahal mereka mengetahui melalui kitab-kitab mereka bahwa kelak Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan dipalingkan ke arah kiblat Nabi Ibrahim a.s., yaitu ke Ka’bah. Demikian pula terpatahkan hujah orang-orang musyrik Arab ketika Rasu-lullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dipalingkan dari kiblat orang-orang Yahudi ke kiblat Nabi Ibrahim a.s., yaitu kiblat yang lebih mulia daripada kiblat Yahudi. Mereka mengagungkan Ka’bah dan merasa takjub dengan menghadap-nya Rasul ke arah Ka’bah.

Menurut pendapat yang lain tidak demikian alasan hikmah yang terkandung dalam pengulangan ini, seluruhnya dikemukakan oleh Ar-Razi dan lain-lainnya dengan bahasan yang terinci.

Tafsir as-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan)

Tafsir Ayat:

Maksudnya, وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ “Dan dari mana saja kamu keluar” dalam perjalananmu atau selainnya; dan ini bersifat umum, فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ “maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram,” maksudnya, menghadaplah kepadanya, kemudian Allah mengarahkan FirmanNya kepada seluruh umat secara umum,

وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ “Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya,” lalu Dia berfirman, وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ “Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabbmu.” Allah menegaskan dengan huruf “inna” dan “lam,” agar tidak terjadi syubhat yang terkecil sekalipun pada seseorang, dan agar dia tidak mengira bahwa itu hanyalah kesenangan belaka dan bukannya melaksanakan perintah.

وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan,” akan tetapi Dia mengawasi kalian di segala kondisi kalian, maka berbuat baiklah kepadaNya dan cermatilah pengawasanNya dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu tidaklah dilalaikan, akan tetapi akan mendapatkan balasannya dengan balasan yang paling sempurna; bila baik, maka baiklah balasannya, dan bila buruk, maka buruk pulalah balasannya.

Tafsir Ringkas Kemenag (Kementrian Agama Republik Indonesia)

Allah mengulangi lagi perintah untuk menghadap masjidilharam. Dan dari mana pun engkau keluar, wahai nabi Muhammad, hadapkanlah wajahmu ke arah masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. Pengulangan ini penting karena peralihan kiblat merupkan peristiwa nasakh (penghapusan hukum) yang pertama kali terjadi dalam islam. Dengan diulang maka hal ini akan tertanam dalam hati kaum mukmin sehingga mereka tidak terpengaruh oleh hasutan orang yahudi yang tidak rela kiblat mereka ditinggaldan dari mana pun engkau keluar, wahai nabi Muhammad, maka hadapkanlah wajahmu ke arah masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, wahai umat islam, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Demikianlah, Allah mengalihkan kiblat agar tidak ada alasan bagi manusia untuk menentangmu; agar orang yahudi tidak bisa lagi berkata, mengapa Muhammad menghadap baitulmakdis, padahal disebutkan dalam kitab-kitab kami bahwa dia menghadap kakbah’ dan agar orang musyrik tidak bisa lagi berkata, mengapa Muhammad menghadap ke baitulmakdis dan meninggalkan kakbah yang dibangun oleh kakeknya sendiri’ dengan pengalihan ini maka ucapan-ucapan itu terjawab, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Mereka akan terus mendebat nabi dan berkata, Muhammad menghadap kakbah karena mencintai agama kaumnya dan tanah airnya. Terkait sikap orang-orang tersebut, Allah berkata kepada nabi dan para sahabatnya, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-ku, agar aku sempurnakan nikmat-ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk. Pengalihan kiblat ke kakbah adalah kenikmatan yang besar karena umat islam mempunyai kiblat sendiri sampai akhir zaman, dan dengan demikian mereka mendapatkan hidayah dari Allah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.


Al-Baqarah Ayat 149 Arab-Latin, Terjemah Arti Al-Baqarah Ayat 149, Makna Al-Baqarah Ayat 149, Terjemahan Tafsir Al-Baqarah Ayat 149, Al-Baqarah Ayat 149 Bahasa Indonesia, Isi Kandungan Al-Baqarah Ayat 149


Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286